unique visitors counter
⌂ Beranda News Studi: Konsumsi Tylenol saat Hamil Berkaitan dengan Perubahan Rahim dan Ovarium Anak Perempuan
News

Studi: Konsumsi Tylenol saat Hamil Berkaitan dengan Perubahan Rahim dan Ovarium Anak Perempuan

Ilustrasi obat Tylenol dan kehamilan
Studi: Konsumsi Tylenol saat Hamil Berkaitan dengan Perubahan Rahim dan Ovarium Anak Perempuan
A A Ukuran Teks16px

Anak perempuan lahir dengan semua sel telur yang akan mereka miliki seumur hidup.

Perbedaan Ukuran dan Hormon

Bayi perempuan yang terpapar obat dalam kandungan memiliki volume ovarium rata-rata 40% lebih kecil, volume rahim 13% lebih kecil, dan folikel ovarium 23% lebih sedikit.

Bayi yang terpapar awal kehamilan juga memiliki kadar hormon Anti-Müllerian lebih rendah, yang merupakan indikator jumlah dan kualitas sel telur.

Peneliti juga memeriksa kelompok terpisah yang terdiri dari 1.210 anak perempuan yang diikuti dari masa bayi hingga remaja.

Pada kelompok ini, paparan janin dikaitkan dengan rahim yang lebih kecil saat pubertas dan ovarium yang lebih kecil selama masa remaja.

Fischer menekankan bahwa studi ini tidak dapat memprediksi hasil untuk setiap individu.

Banyak wanita yang menggunakan obat selama kehamilan memiliki anak perempuan dengan ukuran ovarium yang serupa dengan mereka yang tidak menggunakan obat.

Pedoman saat ini tetap merekomendasikan parasetamol atau asetaminofen sebagai obat yang aman untuk mengatasi nyeri dan demam selama kehamilan.

Demam tinggi atau nyeri hebat yang tidak diobati justru dapat membahayakan ibu dan janin.

Dalam komentar yang menyertainya, Dr. Christian De Geyter dari Rumah Sakit Universitas Basel, Swiss, mengatakan temuan ini sesuai dengan data penelitian pada hewan.

Ia menyarankan tindak lanjut hingga menopause dan mempertimbangkan kembali rekomendasi penggunaan obat ini selama kehamilan.

Sementara itu, Kenvue, pemilik merek Tylenol, menyarankan wanita hamil atau menyusui untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan sebelum menggunakan asetaminofen.

Perusahaan menyebut obat ini sebagai pereda nyeri yang paling banyak diteliti dan aman selama kehamilan, serta mencatat keterbatasan metodologi studi.

📰 Update Terbaru