Namun budaya utaite Jepang yang mereka tarik memiliki akar yang sangat berbeda.
Tanpa pemahaman subkultur Jepang, termasuk Vocaloid dan anime, sulit mendapatkan ekspresi musik yang tepat atau memahami daya tarik bagi penggemar.
Mereka ingin membuat musik yang menggabungkan kekuatan anime dan K-pop tanpa sekadar meniru salah satunya.
Yang membedakan, menurut Kim, bukan hanya karakter, tetapi juga suara dan kualitas pertunjukan langsung.
Jang menjelaskan bahwa kelima anggota diperkenalkan satu per satu setiap Rabu.
Mereka memasukkan tren musik yang menarik perhatian di Jepang, termasuk musik dansa retro, tetapi fokus utama adalah menampilkan suara dan karakter khas tiap anggota.
Pengembangan karya seni karakter memakan waktu sekitar dua setengah tahun karena proyek berakar pada anime Jepang.
Awalnya aktivitas grup akan berpusat pada karakter, tetapi mereka berencana memperluas ekspresi dan gerakan untuk menciptakan konten yang lebih beragam.
Yang terpenting, para anggota adalah artis yang bisa bernyanyi dan tampil di panggung.
Audiens akan benar-benar merasakan nilai proyek ini saat melihat mereka live.
Pertunjukan direncanakan di Tokyo pada 13 November dan Osaka pada 14 November, dengan dorongan kuat di Jepang.
Targetnya membangun basis penggemar solid di Jepang lebih dulu, lalu mulai aktivitas di Korea.
Kim menjelaskan bahwa dasar-dasar bermusik tetap sama, tetapi teknik vokal dan bentuk ekspresi yang ditekankan berbeda tergantung genre dan pasar.
Awalnya mereka mendekati proyek seperti mengajar K-pop, tetapi seiring berjalan banyak hal harus dipikirkan ulang.
Musik utaite bukan sekadar bernyanyi dengan baik, melainkan membawa karakter dan rasa khas pada setiap frasa.
Nada nasal atau teknik vokal tidak biasa yang mungkin dihaluskan dalam K-pop justru bisa menjadi daya tarik dalam musik utaite.