Namun Trump menentang upaya membatasi AI. Ia mengeklaim bahwa pembatasan bisa membuat China mengalahkan Amerika Serikat dalam bidang AI.
Trump mengatakan ada konspirasi sakit terhadap AI dan pusat data. Menurutnya, satu-satunya pihak yang senang dengan hal itu adalah China.
Presiden itu telah lama menolak pengawasan pemerintah yang lebih besar terhadap AI. Ia memegang filosofi sejak 2016, yakni 'saya sendiri yang bisa memperbaikinya'.
Ia kembali ke Gedung Putih tahun lalu dengan mencabut perintah eksekutif pemerintahan Biden tentang pengawasan AI.
Perintah eksekutif miliknya sendiri yang lebih lengkap baru terbit lebih dari 16 bulan kemudian, pada Juni lalu.
Prospek pembangunan AI yang lebih lambat membuat saham melemah pada perdagangan Senin pagi. Permintaan chip komputer canggih dan material konstruksi untuk pusat data berpotensi menurun.
Kekecewaan Trump muncul saat AI juga menjadi beban politik menjelang pemilihan sela November.
Banyak pemilih menentang pembangunan pusat data tambahan dan khawatir AI menyebabkan kehilangan pekerjaan serta merusak pendidikan anak.
Rahm Emanuel, mantan wali kota Chicago, anggota kongres dari Partai Demokrat, dan kepala staf Gedung Putih, mengomentari esai CEO Anthropic itu pada Sabtu.
Ia menyebut esai tersebut sebagai pengakuan bahwa Amerika sedang melaju di jalan gelap berkelok dengan aspal basah dan lampu mati.
Ia juga menyindir Trump yang tampak tertidur lagi.
Emanuel menyerukan agar lampu dinyalakan, kedua tangan memegang kemudi, dan kendali diambil kembali sebelum terlambat.
Namun pemerintahan Trump berulang kali berupaya mengecilkan risiko yang disorot perusahaan AI.
Wakil Presiden JD Vance kepada wartawan Senin pagi mengatakan bahwa orang Amerika tidak perlu takut pada apa pun.
Vance berbicara saat bersiap terbang ke Kansas untuk acara kampanye pemilihan sela. Ia menyatakan pemerintahan Trump peduli soal AI, tetapi ingin memastikan regulasinya dilakukan dengan cerdas.
Ia juga memperingatkan bahwa AS berada dalam perlombaan senjata AI melawan China.
Menurut Vance, ia merasa agak aneh karena banyak perusahaan teknologi AI terdepan datang ke pemerintah dan memohon untuk diatur.
Vance menyebut hal itu terasa seperti kuda Troya. Karena itu, ia menilai semua pihak harus berhati-hati.