Seperti perusahaan bioteknologi lain, Anthropic merangkul otomatisasi fisik, kata dua sumber yang berbicara dengan syarat anonim.
Perusahaan ingin mendorong Claude AI untuk mengarahkan unit robot menjalankan eksperimen sains dengan intervensi manusia terbatas, kata salah satu sumber.
Meski demikian, juru bicara Anthropic menyatakan pengawasan dan keterlibatan manusia tetap penting untuk keselamatan.
"Kami masih di inning sangat awal dalam menggunakan AI untuk mengotomatisasi pelaksanaan kerja lab," kata Kauderer-Abrams.
Ia menilai area itu berpotensi mempercepat banyak proses secara berarti.
Langkah Anthropic menerapkan teknologi yang berkembang cepat ke lab biologi terjadi pada momen luar biasa bagi perusahaan.
Dalam dua pekan terakhir, sejumlah penelitinya memperingatkan AI bisa menyebabkan kepunahan manusia.
Anthropic juga menyatakan menemukan contoh sistemnya dapat digunakan untuk pengembangan senjata biologis, yang menuai skeptisisme.
Amodei menyerukan perlambatan pengembangan, dengan alasan AI masa depan yang lebih canggih dari agen OpenAI yang meretas Hugging Face bisa menimbulkan kerusakan katastrofik.
Pada saat yang sama, Anthropic bersiap melantai di bursa saham dalam IPO potensial senilai 2 triliun dolar AS untuk menggalang dana pengembangan AI.
"Dalam kerja ilmu hayati kami, kami selalu menyeimbangkan hal-hal ini," kata Kauderer-Abrams.
Membuat model lebih baik untuk mempercepat pengembangan obat, sekaligus berhati-hati dalam penerapannya untuk membatasi risiko.
Anthropic menegaskan niatnya menjalankan program obat pada acara di San Francisco pada Juni.
Di atas panggung, Kauderer-Abrams mengatakan Anthropic akan melakukan kerja praklinis di area yang tidak menarik secara finansial bagi perusahaan tradisional.
Perusahaan juga meluncurkan perangkat lunak bernama Claude Science.
Sebelumnya, Anthropic menambahkan CEO Novartis Vas Narasimhan ke dewan dan membeli startup Coefficient Bio sekitar 400 juta dolar AS dalam bentuk saham, menurut laporan media.