Pakar perilaku dan ilmu saraf mengungkap alasan ilmiah di balik perbedaan tampilan wajah seseorang saat dilihat di cermin dibandingkan hasil foto.
Fenomena ini dipengaruhi oleh persepsi visual serta pemrosesan di alam bawah sadar, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Selasa (22/9/2026).
Perbedaan utama terletak pada sifat bayangan cermin yang membalikkan posisi kiri dan kanan, sementara foto menampilkan citra asli tanpa pembalikan.
Kondisi ini berinteraksi dengan struktur wajah manusia yang pada umumnya tidak simetris sempurna.
Efek Kebiasaan dan Mere Exposure
Kecenderungan manusia lebih menyukai tampilan diri di cermin terjadi karena faktor kebiasaan memandang bayangan tersebut secara berulang.
Konsep psikologi ini dikenal sebagai mere exposure effect, di mana rasa suka muncul semata-mata akibat tingginya frekuensi interaksi visual.
"Kita cenderung menyukai hal-hal yang familiar.
Jadi, jika kamu secara rutin melihat diri sendiri sebagai bayangan cermin, seiring waktu kamu akan menyukai citra diri tersebut," jelas Dr Nicholas Epley, seorang ahli perilaku di University of Chicago Booth School of Business.
Penelitian lanjutan yang dipublikasikan Epley dalam jurnal Mirror, mirror on the wall: enhancement in self-recognition menunjukkan bahwa orang cenderung memilih foto diri yang telah disunting menjadi lebih menarik sebagai representasi wajah asli mereka.
"Kita tidak selalu mencoba menipu diri sendiri, tetapi ada perbedaan antara foto yang diambil untuk eksperimen dan foto sehari-hari," ujar Epley.
Sementara itu, profesor madya ilmu saraf kognitif di University of Messina, Italia, Dr Valentina Cazzato, menerangkan bahwa perbedaan persepsi ini dipengaruhi pula oleh dinamika pengambilan gambar.