Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah dalam perang dengan Amerika Serikat.
Namun, ia menyatakan Iran tetap percaya pada jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian di hadapan para pemimpin dunia dalam sidang tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu.
Delegasi Amerika Serikat meninggalkan ruang sidang saat pidato Pezeshkian dimulai.
Misi AS untuk PBB belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait kejadian itu.
Selat Hormuz dan Ketegangan Iran-AS
Selat Hormuz menjadi salah satu fokus ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Sebelum perang, jalur itu disebut menjadi saluran bagi seperlima minyak global dan gas alam cair.
Pezeshkian mempertanyakan mengapa semua pihak bisa memanfaatkan Selat Hormuz sementara Iran justru dilarang mengakses pelayaran di jalur tersebut.
Ia menilai penempatan permanen armada musuh dan perluasan perang tidak akan membawa perdamaian.
Pezeshkian berbicara di Majelis Umum yang beranggotakan 193 negara, sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato.
Dalam pidatonya pada Selasa, Trump membela perangnya terhadap Iran.
Trump mengeklaim telah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir dan memperingatkan bisa menghancurkan Republik Islam itu jika tidak ada kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Pezeshkian menyampaikan pidato itu sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di forum yang sama.
Dalam pidatonya, Trump membela langkah perangnya terhadap Iran dan mengeklaim telah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
Ia juga memperingatkan bisa menghancurkan Republik Islam itu jika tidak tercapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Di sisi lain, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah, namun tetap membuka jalan diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.
