unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Bojagi, Kain Pembungkus Tradisional Korea Kini Digemari Generasi Muda
Lifestyle

Bojagi, Kain Pembungkus Tradisional Korea Kini Digemari Generasi Muda

Kain pembungkus tradisional Korea bojagi dengan warna modern
Bojagi, Kain Pembungkus Tradisional Korea Kini Digemari Generasi Muda
A A Ukuran Teks16px

Kain pembungkus tradisional Korea, bojagi, kembali mencuri perhatian di kalangan generasi muda. Perubahan ini terlihat jelas pada paket hadiah yang membanjiri pasar menjelang libur Chuseok.

Dari merek kopi ternama dan kue beras berisi buah yang populer di kalangan Generasi MZ, hingga toko dessert terkenal, semakin banyak produk bergaya modern yang dibungkus dengan bojagi.

Citra kuno kain satin berwarna emas yang dulu identik dengan paket hadiah hari raya kini mulai ditinggalkan.

Beragam bahan dan palet warna kontemporer membantu menghapus kesan ketinggalan zaman pada kain tersebut.

Bojagi merujuk pada selembar kain persegi yang digunakan untuk membungkus, menyimpan, atau membawa barang.

Pada masa ketika tas, kemasan plastik, dan kotak kardus belum umum, bojagi merupakan perlengkapan rumah tangga yang penting.

Namun seiring modernisasi Korea, bojagi tampak akan menjadi peninggalan masa lalu.

Belakangan, kain ini lebih banyak digunakan untuk acara formal seperti pernikahan dan pemberian hadiah hari raya, karena melambangkan keberuntungan.

Kebangkitan kembali bojagi sebagai pembungkus hadiah sebagian besar didorong oleh tren traditional-core.

Tren ini menafsirkan ulang budaya tradisional dengan cara yang kontemporer dan modis, sekaligus menghadirkan apresiasi baru terhadap bojagi sebagai warisan Korea yang elegan dan halus.

Lee Hyo-jae, seniman yang dikenal sebagai seniman bojagi pertama Korea, mengatakan bahwa pada generasi orang tua, bojagi melambangkan kesulitan.

Kain itu digunakan untuk membawa barang di atas kepala dan punggung saat mengungsi.

Namun kini, menurut Lee, bojagi telah mengambil bentuk keindahan dan kecanggihan sebagai sebuah karya seni.

Berbeda dengan kotak kertas dan kemasan plastik, bojagi juga dapat digunakan kembali. Sifat ini membuatnya cocok dengan tren ramah lingkungan yang terus berkembang.

Di luar negeri, bojagi mulai dikenal dengan nama Koreanya yang ditulis secara fonetis dalam bahasa Inggris.

Pada pernikahan di Prancis Oktober lalu antara Sean Taffin de Givenchy, keponakan pendiri rumah mode mewah Givenchy, dan pengantin perempuannya asal Korea, Jung Da-hye, hadiah yang dibungkus bojagi sutra putih menarik perhatian besar.

Di antara berbagai jenis bojagi, jogakbo, kain tambal sulam yang dibuat dengan menyatukan potongan kain, sangat populer untuk tirai dan barang dekoratif karena kemiripannya dengan patchwork Barat.

Meski demikian, bojagi masih kurang dikenal secara internasional dibandingkan furoshiki, kain pembungkus tradisional Jepang. Kedua istilah ini kadang digunakan secara bergantian di luar negeri.

Di Jepang, furoshiki terus digunakan secara relatif konsisten dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk membungkus kotak makan. Di Korea, sebaliknya, bojagi baru-baru ini mulai menarik perhatian kembali.

Lee Yun-young, ketua Korea Bojagi Art Association, berharap lebih banyak orang mengenali keindahan bojagi itu sendiri dan lebih sering menggunakannya.

Meskipun bojagi mendapat perhatian sebagai bahan kemasan ramah lingkungan, manfaat lingkungannya bergantung pada seberapa sering kain itu digunakan kembali.

Banyak orang masih hanya mengenal simpul dasarnya, yaitu membentangkan kain dalam bentuk belah ketupat, meletakkan barang di tengah, dan mengikat keempat sudutnya.

Selain itu, meski serbaguna, bojagi paling sering digunakan untuk membungkus kotak persegi atau keranjang buah. Padahal selembar kain persegi sederhana menawarkan kemungkinan yang nyaris tak terbatas.

Bergantung pada tekniknya, kain ini dapat dibentuk menjadi desain rumit menyerupai bunga atau kupu-kupu. Bahkan benda dengan bentuk tidak biasa pun dapat dibungkus dengan mudah.

Ketua Korea Bojagi Art Association membagikan teknik membungkus botol wine. Metode ini juga dapat digunakan untuk botol kaca lain atau saat memanfaatkan kembali botol wine sebagai vas.

Cara Membungkus Botol Wine dengan Bojagi

Pertama, bentangkan bojagi dalam bentuk belah ketupat. Letakkan botol wine atau botol kaca dalam posisi tegak di tengah kain, pastikan posisinya sejajar dengan baik.

Angkat sudut atas dan bawah kain, lalu pertemukan keduanya di sekitar leher botol. Bawa sudut kiri dan kanan ke arah tengah, membungkusnya mengelilingi botol.

Lipat kain berlebih di sepanjang sisi ke dalam dengan rapi, haluskan agar mengikuti bentuk botol.

Setelah keempat sudut bertemu secara alami di sekitar leher botol, kencangkan dengan karet gelang.

Haluskan lipatan kain di sekitar botol.

Atur keempat sudut yang memanjang di atas leher menjadi bentuk yang alami, lalu hiasi dengan mengikat tali atau pita di sekelilingnya.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru