PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat laba bersih Rp 34,77 triliun hingga Agustus 2026.
Capaian itu tumbuh 6,63 persen secara tahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba ditopang pendapatan bunga yang mencapai Rp 109,67 triliun atau naik 0,22 persen secara tahunan.
Beban bunga turun 6,70 persen secara tahunan menjadi Rp 32,41 triliun.
Efisiensi beban bunga mendorong pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) naik 3,44 persen secara tahunan menembus Rp 77,25 triliun.
Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi juga naik 5,37 persen menjadi Rp 14,06 triliun.
Pendapatan dividen BRI melonjak 43,73 persen secara tahunan hingga Rp 4,54 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit per 31 Agustus 2026 mencapai Rp 1.446,98 triliun, naik 13,66 persen dari posisi sebelumnya Rp 1.273,09 triliun.
DPK dan Aset BRI Tumbuh Dua Digit
Ekspansi kredit menopang total aset BRI menjadi Rp 2.127,78 triliun pada akhir Agustus 2026.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) naik 12,59 persen secara tahunan menjadi Rp 1.655,84 triliun.
Kenaikan DPK ditopang pertumbuhan di seluruh jenis simpanan.
Dana tabungan naik 14,24 persen menjadi Rp 623,73 triliun, deposito bertambah 15,04 persen menjadi Rp 582,75 triliun, dan giro meningkat 7,46 persen menjadi Rp 449,37 triliun.
Rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) BRI berada di 87,39 persen pada Agustus 2026.
Posisi itu naik tipis dari LDR Agustus 2025 yang sebesar 86,56 persen.
Dari neraca keuangan, total liabilitas BRI tercatat Rp 1.825,35 triliun. Adapun total ekuitas perseroan berada di posisi Rp 302,43 triliun pada akhir Agustus 2026.