PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen resmi meluncurkan reksadana syariah berdenominasi dolar AS bernama Batavia Gold Sharia Equity USD atau BAGOS.
Peluncuran berlangsung pada Rabu (30/9/2026) di Jakarta, seperti dilansir dari Investasi.
Produk ini telah menghimpun dana kelolaan atau asset under management lebih dari US$ 10 juta sejak diperkenalkan ke publik pada 10 September 2026.
Fokus Portofolio dan Proyeksi Pertumbuhan
Portofolio BAGOS berfokus pada saham perusahaan global di sektor pertambangan emas.
Terdapat peluang diversifikasi ke industri logam lainnya untuk memanfaatkan tren permintaan emas dunia yang didorong konsistensi aksi beli bank sentral global.
Manajemen Batavia memproyeksikan penghimpunan dana kelolaan instrumen berbasis dolar AS ini dapat meluas hingga dua kali lipat pada akhir tahun 2026.
"Untuk target peluncuran sendiri, pada peluncuran kemarin kami target (AUM) di atas US$ 10 juta di day one.
Dan telah terkumpul lebih dari US$ 10 juta di day one itu," ujar Eri Kusnadi, Direktur Batavia Prosperindo Asset Management.
Kinerja reksadana saham offshore sejauh ini disokong sektor teknologi dan kecerdasan buatan.
Data Infovesta mencatat return reksadana saham membaik 3,60% pada Agustus 2026, meski masih minus 11,60% secara year-to-date hingga 31 Agustus 2026.
Eri Kusnadi menjelaskan pergerakan aset berbasis emas tidak berkorelasi kuat dengan pasar saham secara umum.
Karena itu, instrumen ini dinilai menjadi pilihan lindung nilai yang lebih stabil bagi investor.
"Karena kita belum ada reksadana yang basisnya gold.
Jadi, ini merupakan salah satu peluang supaya kita punya range of product investment yang memang cocok dengan customer kita punya risiko," terang Boy Suhendry, Head of Market Intelligence PT Bank DBS Indonesia.
Sebagai salah satu mitra penyalur resmi, Bank DBS Indonesia memanfaatkan kehadiran produk BAGOS untuk melengkapi variasi investasi.
Langkah ini khususnya menyasar nasabah segmen High-Net-Worth Individual yang mengelola aset dolar AS.