Prospek kinerja emiten batubara diproyeksikan tetap solid hingga akhir 2026.
Pengetatan pasokan di pasar domestik dan pemulihan harga komoditas global menjadi pendorong utama.
Meski begitu, efisiensi operasional dan dinamika kuota masih menjadi tantangan bagi produsen.
Sejumlah analis pun merilis rekomendasi saham sektor batubara untuk perdagangan Senin (5/10/2026).
Rekomendasi Analis untuk Emiten Batubara
Analis UBS Global Research Timothy Handerson merekomendasikan buy untuk saham ITMG dengan target harga Rp 30.000 per saham.
Prospek ITMG ditopang harga jual yang relatif tinggi, tetapi sensitivitas terhadap biaya perlu diperhatikan.
Pada paruh pertama 2026, ASP sekitar US$ 81 per ton, sedangkan cash cost sekitar US$ 67 per ton.
Produksi turun 5% YoY menjadi 9,9 juta ton, tetapi penjualan naik 5% menjadi 12,3 juta ton.
Pada kuartal II-2026, cash cost meningkat 4% QoQ menjadi US$68/ton, antara lain karena kenaikan fuel cost.
Katalis utama ITMG hingga akhir tahun adalah menjaga margin melalui volume dan efisiensi saat biaya operasional meningkat.
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas merekomendasikan buy untuk saham PTBA dengan target harga Rp 3.320 per saham.
PTBA memiliki katalis dari kombinasi kenaikan ASP dan efisiensi biaya.
Pada semester I 2026, laba bersih mencapai sekitar Rp 2,7 triliun atau melonjak 218% YoY, dengan EBITDA margin membaik menjadi 19%.
Kinerja itu terutama didorong kenaikan ASP sekitar 20% YoY dan stripping ratio yang lebih rendah.
Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah realisasi volume, biaya produksi, serta kemampuan mempertahankan margin jika harga batubara normalisasi.
Analis KB Valbury Sekuritas Adolf Setiadi merekomendasikan buy untuk saham AADI dengan target harga Rp 12.800 per saham.
Momentum earnings AADI masih kuat karena pemulihan volume dan kenaikan ASP.
Pada semester I 2026, AADI mencatat laba bersih sekitar US$ 474 juta, naik 11% YoY.
Pada kuartal II-2026, ASP meningkat menjadi sekitar US$75 per ton dan volume penjualan naik 22% QoQ.
Cash cost turun menjadi sekitar US$49/ton karena economies of scale dan stripping ratio yang lebih rendah dari guidance.
Ruang pertumbuhan laba pada semester II masih terbuka apabila harga batubara bertahan dan volume terealisasi sesuai target.
Analis Sinarmas Sekuritas Kenny Shan merekomendasikan buy untuk saham BUMI dengan target harga Rp 290 per saham.
BUMI memiliki sensitivitas relatif tinggi terhadap kombinasi harga batu bara, volume produksi, dan biaya produksi.
Pengetatan pasokan domestik secara umum dapat menjadi katalis harga, tetapi perusahaan tetap perlu membuktikan konversinya menjadi peningkatan margin dan arus kas.
Investor perlu mencermati realisasi produksi, kualitas batubara, cash cost, stripping ratio, serta kontribusi anak usaha terhadap earnings.
