PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menanggapi kabar yang mengaitkannya sebagai calon pembeli tambang batu bara Kideco Jaya Agung milik PT Indika Energy Tbk (INDY).
Direktur BUMI, R. A.
Sri Dharmayanti, menyatakan informasi tersebut belum dapat dipastikan karena berasal dari sumber yang identitasnya tidak diketahui.
Dalam keterbukaan informasi pada Selasa (13/10/2026), Sri menegaskan perseroan tidak dapat memberikan komentar atas rumor pasar, spekulasi, maupun transaksi yang bersifat hipotesis.
Ia menambahkan setiap perkembangan korporasi yang material akan diungkapkan sesuai peraturan dan ketentuan keterbukaan informasi yang berlaku.
BUMI juga menjelaskan arah pengembangan bisnisnya yang mencakup diversifikasi di luar batu bara termal. Strategi itu menjadi konteks yang disampaikan perusahaan saat menanggapi pemberitaan mengenai Kideco Jaya Agung.
Perusahaan menegaskan aset yang disebut dalam pemberitaan merupakan aset batu bara termal. Apabila terdapat informasi atau fakta material, BUMI akan menyampaikannya sesuai peraturan yang berlaku.
Nilai Transaksi dan Kepemilikan Saham Kideco
Menurut laporan Deal Street Asia, BUMI masuk dalam daftar kandidat potensial untuk mengambil alih mayoritas saham Kideco Jaya Agung.
Nilai penjualan tersebut diperkirakan melampaui US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,92 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.928.
Struktur kepemilikan Kideco saat ini terdiri atas 91% saham yang dikuasai INDY dan 9% yang dimiliki Samtan Co. Ltd. Dengan demikian, INDY menjadi pemegang saham mayoritas perusahaan tambang tersebut.
Kinerja Kideco juga berkontribusi besar terhadap pendapatan induk usahanya.
Pada semester I-2026, perusahaan membukukan pendapatan US$ 855,1 juta, setara dengan sekitar 71,9% dari pendapatan kotor INDY.
Kideco Jaya Agung mengoperasikan tambang batu bara di Kalimantan Timur.
Pada 2022, produksi batu baranya tercatat mencapai sekitar 34,8 juta ton, sedangkan izin penambangan khusus perusahaan berlaku hingga tahun 2033.
Berdasarkan laporan JORC Desember 2023, aset pertambangan ini mempunyai sumber daya batu bara sebesar 1,5 miliar ton dan cadangan sebesar 468 juta ton.
Data operasional semester I-2026 menunjukkan produksi Kideco mencapai 15,2 juta ton, meningkat dibandingkan 14,5 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Harga jual rata-rata batu bara secara FOB naik 6,8% secara tahunan menjadi US$ 54,7 per ton.
Pada periode yang sama, biaya tunai yang mencakup royalti meningkat 2,9% menjadi US$ 46,5 per ton.