Korea Utara berpotensi memperkuat kemampuan drone militernya melalui keahlian teknis yang diperoleh para pekerja yang dikerahkan ke fasilitas produksi drone utama Rusia.
Hal itu terungkap dalam laporan lembaga pemikir Amerika Serikat yang dirilis Rabu, dan berpotensi menimbulkan ancaman keamanan baru bagi Korea Selatan serta pasukan AS di kawasan.
Laporan tersebut disusun bersama oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan George W. Bush Institute.
Kajian itu menelaah implikasi keamanan dari keterlibatan Korea Utara dalam industri manufaktur drone Rusia, termasuk peran China dan Iran dalam mendukung perang Moskow melawan Ukraina.
Skema Visa Pelajar dan Transfer Pengetahuan Teknis
Menurut laporan terpisah dari Multilateral Sanctions Monitoring Team (MSMT) pada September, Rusia menampung sekitar 15.000 hingga 30.000 pekerja Korea Utara hingga akhir 2025.
Sebagian dari mereka terlibat dalam pembuatan drone militer.
Laporan itu juga menyebut Moskow membuat skema visa pelajar untuk menyamarkan pekerja Korea Utara sebagai mahasiswa.
Laporan CSIS dan Bush Institute menyatakan tenaga kerja Korea Utara turut mentransfer pengetahuan teknis.
Teknisi yang dikirim ke Alabuga akan kembali ke Pyongyang dengan pelajaran berharga dari bekerja di lini perakitan drone produksi massal.
Mereka disebut mengamati penyempurnaan Rusia terhadap drone Geran yang terus ditingkatkan.
Geran merupakan drone serang buatan Rusia dengan desain Iran yang banyak digunakan Moskow dalam perang melawan Ukraina.
Laporan itu menilai Korea Utara dengan program drone yang lebih canggih dan berkembang menimbulkan tantangan militer baru bagi Korea Selatan, Jepang, dan pasukan AS di Indo-Pasifik.
Laporan tersebut ditulis oleh Victor Cha, Korea Chair di CSIS, dan Joseph Kim, program manager di Bush Institute.
Keduanya mengutip perkiraan intelijen militer Ukraina bahwa hingga 12.000 pekerja Korea Utara ditugaskan ke kompleks Alabuga.
Laporan itu juga menyoroti manfaat finansial yang diperoleh Pyongyang dari operasi tenaga kerja luar negerinya.
Rezim tersebut menahan 70 hingga 90 persen upah pekerja.
Upah yang diperoleh pekerja Korea Utara pada akhirnya mengalir kembali ke Pyongyang dan rezim yang sama yang memaksa mereka bekerja.
Menurut MSMT, setiap pekerja Korea Utara di Rusia menghasilkan rata-rata sekitar US$7.500 per tahun.
Pendapatan bulanan mereka berpotensi mencapai hingga lima kali lipat dibanding pekerja Korea Utara di China, tergantung industrinya.
