Sejumlah kebijakan industri, dari IOMKI pada masa pembatasan hingga insentif otomotif, disebut menjadi penopang pemulihan sektor manufaktur Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam pemberitaan menunjukkan manufaktur tumbuh 5,32 persen pada kuartal II 2026, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional 5,29 persen. Tenaga kerja manufaktur naik dari 17,44 juta pada 2020 menjadi 20,26 juta pada 2025, sementara nilai tambahnya meningkat dari 210,4 miliar dolar AS pada 2020 menjadi 265,07 miliar dolar AS pada 2025.
IOMKI dan PPnBM DTP
Pada era Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Izin Operasional dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) memungkinkan pabrik tetap beroperasi saat pembatasan dengan protokol kesehatan. Tercatat 17.466 izin IOMKI diterbitkan hingga pertengahan Juni 2020.
Insentif PPnBM ditanggung pemerintah untuk kendaraan juga memberi efek nyata: penjualan mobil nasional naik 88 persen sebulan setelah insentif berlaku, dengan 487.000 unit terjual pada Maret-November 2021, naik 71,02 persen secara tahunan. Pada kuartal II 2021, manufaktur tumbuh 6,91 persen dan ekonomi 7,07 persen, mengakhiri empat kuartal kontraksi.
Investasi dan posisi global
Investasi manufaktur naik dari Rp259 triliun pada 2020 menjadi Rp697 triliun pada 2024 menurut BPS, sementara Kemenperin mencatat Rp1.002 triliun investasi baru pada 2024-2026 yang didukung hampir 3.500 fasilitas produksi baru.
Pada 2025, Indonesia berada di peringkat 13 dunia dan pertama di ASEAN dari sisi nilai tambah manufaktur sebesar 265,07 miliar dolar AS, di atas Thailand 128,04 miliar dolar AS dan Vietnam 116,38 miliar dolar AS. Manufaktur tumbuh 5,15 persen berbanding nasional 5,11 persen, dengan PDB nominal manufaktur Rp4.117 triliun, naik dari Rp2.761 triliun pada 2020. Ekspor manufaktur disebut dominan, dipimpin turunan CPO, besi-baja, serta mesin dan peralatan listrik. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Kemenperin sejak November 2022 berada di atas 50 atau zona ekspansi, dengan rekor 54,12 pada Januari 2026 dan 51,93 pada September 2026, sementara 15 dari 23 subsektor masih ekspansi.