unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Pendapatan Garuda Indonesia Naik 13,2 Persen, Rugi Menyusut
News

Pendapatan Garuda Indonesia Naik 13,2 Persen, Rugi Menyusut

Pesawat Garuda Indonesia di bandara
Pendapatan Garuda Indonesia Naik 13,2 Persen, Rugi Menyusut
A A Ukuran Teks16px

Garuda Indonesia Group mencatat pendapatan konsolidasi 2,71 miliar dolar AS pada Januari-September 2026.

Angka itu tumbuh 13,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau bertambah 316,4 juta dolar AS.

Peningkatan pendapatan berlangsung di tengah lonjakan beban bahan bakar pesawat yang mencapai 42,9 persen atau setara 309,8 juta dolar AS.

Total beban operasional Grup naik 15,7 persen secara tahunan.

Meski tertekan biaya, Garuda Indonesia Group membukukan laba usaha 97,2 juta dolar AS.

Rugi periode berjalan konsolidasi menyusut 3 persen menjadi 179,3 juta dolar AS.

Bisnis Non-Penerbangan Jadi Penopang

Direktur Utama Garuda Indonesia Thomas Oentoro menilai kinerja hingga September menunjukkan kemajuan transformasi perusahaan.

Menurutnya, kemajuan itu terlihat dari peningkatan produktivitas dan pengoptimalan potensi bisnis di seluruh Grup.

Penerbangan berjadwal masih menjadi kontributor utama dengan kenaikan pendapatan 12,6 persen atau 233,2 juta dolar AS.

Penerbangan tidak berjadwal tumbuh 2,1 persen atau 6,3 juta dolar AS.

Sementara itu, pendapatan bisnis non-penerbangan melonjak 31,3 persen menjadi 322,8 juta dolar AS, bertambah 77 juta dolar AS.

Kenaikan didukung pendapatan pemeliharaan pesawat dari pelanggan eksternal PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk sebesar 42,4 persen.

Pendapatan layanan agen perjalanan juga meningkat 76,1 persen.

Thomas menyebut optimalisasi bisnis non-penerbangan sebagai bagian dari strategi penguatan kontribusi setiap entitas usaha.

Perusahaan juga menjalankan transformasi dengan dukungan berkelanjutan Danantara sebagai pemegang saham.

Di luar bahan bakar, beban operasional Grup hanya naik 3,1 persen, lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan konsolidasi 13,2 persen.

Armada dan Penumpang Bertambah

Jumlah pesawat siap operasi mencapai 106 unit hingga September 2026, terdiri atas 64 pesawat Garuda Indonesia dan 42 pesawat Citilink.

Jumlah itu bertambah 24 pesawat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 82 unit.

Garuda Indonesia Group mengangkut 16,7 juta penumpang selama sembilan bulan pertama 2026, naik dari 15,6 juta penumpang.

Garuda Indonesia melayani sekitar 7,7 juta penumpang, sedangkan Citilink mengangkut sekitar 8,9 juta penumpang.

Frekuensi penerbangan Grup meningkat 7,9 persen menjadi 117.868 penerbangan, dibandingkan 109.259 penerbangan pada Januari-September 2025.

Thomas menegaskan penambahan armada perlu disertai peningkatan produktivitas dan pengoptimalan jaringan agar kapasitas baru mendukung efisiensi operasional serta kualitas layanan.

Ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP) Garuda Indonesia Group mencapai 92,01 persen hingga September 2026.

Capaian itu meningkat 5,86 poin persentase dibandingkan 86,15 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Perusahaan menyatakan akan melanjutkan transformasi dengan memprioritaskan peningkatan utilisasi dan produktivitas armada.

Fokus lain mencakup pengoptimalan jaringan penerbangan, penguatan kontribusi bisnis seluruh entitas Grup, serta pengelolaan biaya dan aset secara lebih efektif.

Thomas mengatakan fokus berikutnya adalah mengubah kemajuan operasional dan penguatan bisnis menjadi kinerja keuangan yang lebih sehat serta peningkatan pengalaman perjalanan pelanggan.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru