Untuk mempertahankan kemampuan serang, Iran membangun jaringan fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai kota rudal.

Kompleks tersebut mencakup terowongan penyimpanan dan lokasi peluncuran yang tersembunyi di bawah tanah.

Struktur ini memungkinkan Iran tetap meluncurkan serangan balasan meskipun mengalami serangan awal berskala besar.

Selain itu, Iran juga menggunakan taktik saturasi dengan mengombinasikan rudal dan drone dalam jumlah besar.

Strategi tersebut dirancang untuk membebani sistem pertahanan udara lawan sehingga sebagian proyektil dapat menembus perlindungan.

Tekanan ekonomi melalui Selat Hormuz


Selain mengandalkan serangan rudal, Iran juga memanfaatkan posisinya di sekitar Selat Hormuz untuk memberikan tekanan strategis.

Selat ini merupakan jalur utama perdagangan minyak dunia.

Korps Garda Revolusi Iran dilaporkan menyerang sejumlah kapal tanker yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Inggris menggunakan rudal anti-kapal serta kapal cepat.

Situasi tersebut berdampak langsung pada industri pelayaran internasional.

Perusahaan pelayaran global Maersk mengumumkan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Hormuz.

Biaya asuransi risiko perang juga meningkat tajam, menambah tekanan terhadap stabilitas pasokan energi global.