Aktivis yang ikut dalam misi flotila ke Gaza melaporkan mengalami kekerasan fisik saat ditahan oleh pasukan Israel.
Mereka mengaku dipukul, disetrum dengan alat kejut listrik, dan diteror dengan anjing pelacak.
>>> Dua Kecelakaan Lalu Lintas di Kamboja Tewaskan 14 Pekerja Garmen
Flotila Global Sumud yang terdiri dari 50 kapal dicegat di perairan internasional, sekitar 400 kilometer dari pantai Israel.
Para aktivis, jurnalis, dan seorang anggota parlemen Italia dipindahkan ke kapal militer dan dibawa ke Pelabuhan Ashdod di Israel selatan.
Di sana, mereka dikurung dalam kontainer. Menurut kesaksian yang dihimpun Associated Press, para tahanan ditinju, ditendang, diseret, dan ditarik rambutnya.
Kesaksian Aktivis dan Jurnalis
Zeynel Abidin Ozkan, anggota dewan flotila asal Turki, menceritakan pengalamannya. Ia mengaku ditahan dalam kontainer bersama tahanan lain.
Beberapa orang dibawa keluar kontainer dan ia mendengar suara pemukulan.
"Kami tidak bisa berdiri, kepala ditundukkan ke tanah, kami diseret dan ditarik rambut. Borgol meninggalkan bekas yang dalam," ujarnya.
Setiba di Ashdod, ia dilarang menghubungi pengacara, kedutaan, atau keluarga. Ia juga dipaksa menandatangani dokumen, namun menolak.
"Saat menolak, mereka memperlakukan kami seperti tahanan, membuat berkas, memotret, memborgol tangan dan kaki dengan besi.
Lalu tentara menyeret kami di tanah, dikelilingi anjing, dan melepaskan anjing ke arah kami," tambah Ozkan.
Christopher Boren, aktivis asal Hawaii, menceritakan saat tiba di Ashdod. "Saya langsung ditangkap lima tentara atau polisi.
Kepala saya ditundukkan dan mereka mulai memukuli saya.
Salah satu dari mereka memakai sarung tangan dengan plastik keras dan meninju wajah saya hingga bengkak," katanya sambil menunjukkan mata hitamnya.
Alessandro Mantovani, jurnalis Italia dari harian Il Fatto Quotidiano, mengaku disiksa selama penahanan. "Kami dibaringkan, ditutup matanya, dan disuruh memastikan penutup mata tidak bergerak.