Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui bahwa ia menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai "gila" dalam sebuah panggilan telepon.
Pengakuan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan The New York Post yang dirilis Rabu (4/6).
>>> Trump Akui Sebut Netanyahu 'Gila' dalam Percakapan Telepon
Trump mengatakan ia "sedikit terganggu" karena pertempuran Israel dengan milisi Hizbullah di Lebanon menghambat perundingan damai dengan Iran.
Meski demikian, ia menegaskan hubungannya dengan Netanyahu tetap solid.
"Kami bekerja sama dengan sangat baik. Saya sangat suka Bibi.
Dan saya bekerja sangat baik dengannya," kata Trump.
Ketegangan di Balik Layar
Menurut laporan Axios dan ABC News pada 1 Juni, Trump melontarkan makian kepada Netanyahu melalui telepon.
Kemarahan Trump dipicu oleh ancaman Israel untuk membom ibu kota Lebanon, Beirut, yang dinilai dapat merusak negosiasi dengan Teheran.
Trump tidak memberikan komitmen mengenai batas waktu penyelesaian perang dengan Iran. Ia mengatakan Selat Hormuz mungkin tetap diblokade hingga Hari Buruh pada 7 September.
"Saya tidak tahu. Maksud saya, saya pikir bisa saja (ditutup hingga Hari Buruh), tapi saya pikir itu tidak mungkin.
Saya pikir ini akan selesai dengan cukup cepat," ujar Trump.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, disebut Trump "terlibat" dalam perundingan damai.
Trump menambahkan bahwa Khamenei sedang tidak sehat akibat luka dalam serangan udara, tetapi "mereka mengatakan dia memberikan persetujuan karena itu sudah berlangsung lama."
>>> Iran Serang Bandara Kuwait dengan Drone, Sejumlah Orang Terluka
Serangan di Kuwait dan Lebanon
Sementara itu, Kuwait menutup sementara bandara utamanya pada Rabu setelah drone Iran menghantam gedung terminal penumpang. Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.
