Perusahaan mainan asal China, Pop Mart, mencatat penurunan penjualan online domestik pertama sejak 2024 pada Mei lalu.
Hal ini memicu kembali pertanyaan tentang keberlanjutan permintaan terhadap portofolio kekayaan intelektual (IP) mereka, termasuk karakter Labubu yang selama ini menjadi andalan.
Berdasarkan data pelacakan e-commerce Moojing di Tmall, Taobao, dan Douyin, penjualan online domestik turun 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan 14 persen dibandingkan April.
Angka tersebut juga 25 persen di bawah rata-rata bulanan pada paruh kedua tahun lalu.
Tekanan Penjualan Diprediksi Makin Berat
Analis Deutsche Bank, Sammi Xu, mengatakan data tersebut mengonfirmasi prediksi sebelumnya tentang meningkatnya tekanan penjualan di pasar domestik Pop Mart sejak kuartal kedua 2026.
"Kami yakin tekanan ini bisa meningkat pada paruh kedua tahun ini, didorong oleh basis perbandingan yang lebih tinggi dan popularitas IP yang meredup di China," ujarnya.
Saham perusahaan yang tercatat di Hong Kong itu turun 2 persen menjadi HK$171,30 pada Rabu.
Analis Morningstar, Jeff Zhang, menilai kegilaan seputar Labubu mulai mereda, sementara persaingan yang semakin ketat kemungkinan akan membebani pertumbuhan pendapatan pada 2026.
Sejak awal tahun, Pop Mart mempercepat peluncuran produk baru. Deutsche Bank menyebut hal itu sebagai pendorong utama pertumbuhan penjualan.
Pada kuartal pertama, pendapatan di China daratan melonjak 100 hingga 105 persen secara tahunan, meskipun pasar luar negeri mencatat penurunan kuartal ke kuartal.
Ekspansi Global dan Kolaborasi Piala Dunia
Pop Mart terus mengejar peluang pertumbuhan di luar negeri.
Kemitraan dengan FIFA menampilkan Labubu di upacara pembukaan Piala Dunia pekan lalu, menandai penampilan pertama IP orisinal China di ajang tersebut.
Kolaborasi ini memicu optimisme investor bahwa Piala Dunia dapat mempercepat penjualan di pasar Barat.
Namun, Deutsche Bank mencatat data Google Trends di AS masih relatif rendah. Sponsor FIFA dan Olimpiade sebelumnya oleh merek China umumnya berdampak terbatas pada penjualan produk.
Ke depan, Pop Mart diperkirakan akan meluncurkan Labubu 4.0 pada paruh kedua tahun ini.
Jeff Zhang memperkirakan Labubu 4.0 akan memberikan dorongan moderat pada pertumbuhan penjualan dan aktivitas pencarian online.
Perusahaan juga menyiapkan produk baru untuk IP lain, sementara kolaborasi Piala Dunia dapat meningkatkan popularitas Pop Mart dan memperluas basis penggemar di luar negeri.
Selain peluncuran mainan baru, Pop Mart fokus pada peningkatan toko yang ada daripada ekspansi jaringan cepat, dengan tujuan meningkatkan pengalaman pelanggan.
Morningstar mengatakan diversifikasi perusahaan ke taman tema, bisnis roti, dan peralatan rumah tangga juga dapat memberikan dukungan pendapatan tambahan dalam jangka panjang.