Lee Jin-hee, seorang sutradara kostum, desainer, dan profesor di Korea National University of Arts, telah lama dikenal sebagai maestro di balik desain kostum untuk berbagai drama, film, dan produksi teater.
Ia pertama kali tertarik pada desain kostum saat kuliah jurusan desain panggung. Ketertarikannya pada semangat yang terkandung dalam pakaian tradisional Korea membawanya menjadi desainer hanbok yang disegani.
>>> Menginap di Arboretum Tepi Laut yang Dibangun Mantan Perwira Intelijen AS
Perjalanan Karier dan Pengakuan Global
Lee dikenal lewat karyanya di drama hits seperti "Love in the Moonlight" (2016) dan "My Dearest" (2023), serta film seperti "The Treacherous" (2015) dan "The Great Battle" (2018).
Pada 2020, ia meraih Penghargaan Desain Kostum di Grand Bell Awards. Setahun kemudian, ia menggelar pameran tunggal di Korean Cultural Center di New York.
Tahun lalu, ia memamerkan 15 karya hanbok yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) dalam peragaan busana di KTT APEC di Gyeongju, Provinsi Gyeongsang Utara.
Baru-baru ini, ia menjadi kepala desainer kostum untuk musikal lokal "Arang" yang tengah bersiap debut di New York.
Filosofi Warna dan Kesederhanaan Hanbok
Dalam pamerannya di New York, Lee awalnya cemas bagaimana penonton AS akan menerima "obangsaek," lima warna arah tradisional Korea yang sarat filosofi budaya.
Namun, responsnya di luar dugaan. "Obangsaek terkait erat dengan prinsip yin-yang, lima elemen, dan alam semesta.
Pada akhir Dinasti Joseon, angka kematian bayi tinggi, sehingga warna-warna ini digunakan pada pakaian anak sebagai simbol umur panjang dan perlindungan," jelas Lee.
Penonton di New York justru berbicara tentang 'vitalitas.' Tanpa penjelasan, mereka merasakan energi mentah dan kekuatan hidup dalam warna-warna tersebut.
