Gelombang panas ekstrem melanda Eropa pada akhir pekan lalu, memecahkan rekor suhu di sejumlah negara dan memicu krisis kesehatan.
Suhu di beberapa wilayah mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
>>> UMKM Kuat, Jakarta Hebat: Peran Bank Jakarta Membangun Ekonomi Inklusif
Rekor suhu sementara tercatat di Jerman, Denmark, dan Republik Ceko pada Sabtu (26/6). Swiss juga mencatat rekor baru untuk bulan Juni.
Sebelumnya, Prancis dan Inggris telah mengalami rekor serupa awal pekan ini.
Para ilmuwan menyatakan gelombang panas ini hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
Suhu malam hari saat ini 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan dua dekade lalu.
Dampak di Berbagai Negara
Di Jerman, suhu mencapai 41,5 derajat Celsius di Moeckern-Drewitz, Saxony-Anhalt, memecahkan rekor sebelumnya 41,3 derajat Celsius.
Polisi di Berlin menggunakan dua meriam air untuk menyemprot warga yang mencoba mendinginkan diri.
Institut Meteorologi Denmark mencatat suhu 37 derajat Celsius di utara Aarhus, tertinggi sejak pencatatan dimulai tahun 1874.
Sementara itu, Republik Ceko mencatat 40,9 derajat Celsius di utara Praha.
Di Slovakia, ibu kota Bratislava mencatat malam terpanas sepanjang sejarah. Polandia juga mengalami suhu di atas 30 derajat Celsius hampir di seluruh wilayah.
Gangguan Transportasi dan Listrik
Pemanasan Sungai Danube menyebabkan pembangkit listrik tenaga nuklir Paks di Hongaria mengurangi output salah satu reaktornya. Sebelumnya, pembangkit Beznau di Swiss sempat menutup reaktor karena suhu Sungai Aare.
Di Prancis, puluhan orang meninggal akibat gelombang panas.
>>> Posisi Duduk Saat Naik Motor yang Benar Bisa Kurangi Risiko Kecelakaan
Suhu di atas 40 derajat mengganggu perjalanan kereta api dan pembangkit listrik, memicu larangan alkohol, menangguhkan kelas, dan menunda acara luar ruangan.
