Perubahan iklim akibat ulah manusia melipatgandakan kemungkinan kondisi cuaca ekstrem yang memicu kebakaran hutan besar di Kanada pada musim panas ini.
Hal itu diungkap dalam studi yang dirilis Kamis.
>>> Cegah Korupsi, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tegaskan Pengawasan Tak Sekadar Administrasi
Studi dari World Weather Attribution itu juga menyebut kondisi cuaca kebakaran di Northwest Territories dan Ontario barat laut menjadi dua kali lebih mungkin terjadi akibat pemanasan global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyalahkan Kanada atas pengelolaan hutan yang buruk. Namun, para ilmuwan iklim dan kebakaran justru menilai AS seharusnya berkaca pada emisi historisnya.
Studi Ungkap Peran Perubahan Iklim
Studi yang belum ditinjau sejawat ini menganalisis kondisi cuaca yang terkait dengan kebakaran besar, termasuk panas, kurang hujan, kelembapan, dan angin.
Para peneliti membandingkan kondisi saat ini dengan dunia tanpa pemanasan 2,5 derajat Fahrenheit (1,4 derajat Celsius) sejak era industri.
Kondisi cuaca yang memicu kebakaran di Ontario kini diperkirakan terjadi setiap enam tahun sekali. Pada iklim pra-industri, kejadian serupa mungkin hanya sekali dalam seumur hidup.
Penulis studi Jonathan Boucher, ilmuwan kebakaran di Canadian Forest Service, mengatakan perubahan iklim membuat kejadian tersebut lebih mungkin terjadi.
Ilmuwan Sorot Emisi AS
Ilmuwan iklim University of Victoria, Andrew Weaver, menegaskan bahwa asap tidak mengenal paspor, tetapi polusi karbon memiliki sejarah.
Sejarah menunjukkan AS berkontribusi lebih banyak daripada negara lain. Trump menunjuk asap, tetapi mengabaikan jejak Amerika pada kondisi iklim di baliknya.
Penulis studi Friederike Otto dari Imperial College London menambahkan bahwa jika peduli pada semua orang, kita harus berhenti membakar bahan bakar fosil karena dampaknya sudah nyata dan besar.
