Komando Pusat Militer AS menyatakan telah menghantam infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan penambangan Iran pada Minggu.
Serangan AS itu merupakan balasan atas serangan terhadap sebuah kapal di laut pada Sabtu pagi.
Kapal yang menjadi sasaran adalah kapal tanker berbendera Panama bernama Kiku yang membawa minyak mentah untuk perusahaan energi milik negara Qatar, yang merupakan mediator utama antara Iran dan AS.
>>> Polisi Ungkap Taufik Hidayat Pernah Dipenjara atas Kasus Kekerasan Serupa
Dalam unggahan di media sosial, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa AS telah menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta stasiun radar pesisir karena melanggar perjanjian gencatan senjata.
Ia memperingatkan bahwa jika serangan terus berlanjut, AS mungkin tidak akan bisa bersikap masuk akal lagi dan akan dipaksa menyelesaikan pekerjaan secara militer.
Trump menulis di Truth Social, "Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi!"
Pernyataan itu mengikuti pola saling serang yang terjadi beberapa hari sebelumnya, ketika sebuah drone Iran menyerang kapal dagang di lepas pantai Oman pada Kamis, dan militer AS membalas dengan serangan terhadap Iran.
Garda Revolusi Klaim Serang Pangkalan Udara Al Asad
Garda Revolusi mengklaim bertanggung jawab atas kedua serangan tersebut dan menyatakan bahwa mereka menarget Pangkalan Udara Al Asad di Kuwait.
Garda menambahkan, "Biarkan musuh tahu bahwa melanggar gencatan senjata ... akan menyebabkan penghentian total proses yang sedang berlangsung."
Garda, yang mengendalikan persenjataan rudal balistik Iran, hanya bertanggung jawab kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Kelompok ini diyakini memiliki pengaruh yang lebih besar di Republik Islam saat ini.