Industri film Korea saat ini menghadapi paradoks aneh: pengaruh globalnya meluas, namun fondasi domestiknya runtuh dengan cepat.
Para sineas asing terus memuji Korea sebagai negara adidaya sinema kelas dunia.
>>> BTS Tarik 130.000 Penggemar ke Konser London
Namun, pelaku industri lokal khawatir Korea akan mengulangi kemunduran tragis sinema Hong Kong akibat resesi struktural yang berkepanjangan.
Perhatian kini tertuju pada sutradara Na Hong-jin dan film fiksi ilmiah thriller terbarunya, "Hope," yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 15 Juli.
Film ini menjadi proyek termahal dalam sejarah sinema Korea dengan anggaran lebih dari 50 miliar won (sekitar $33 juta).
Banyak pihak menyebutnya sebagai jalur kehidupan terakhir box office domestik.
Pujian Internasional vs Realitas Domestik
Reputasi global film Korea tetap sangat tinggi, kontras dengan kenyataan domestik yang suram. Sutradara Amerika Josh Safdie memuji antusiasme penonton Korea dalam konferensi pers daring pada 2 Juli.
Aktor China Fan Bingbing juga memberikan pujian serupa di Festival Film Internasional Fantastik Bucheon pada 3 Juli.
Ia menyebut industri film Korea sangat maju dengan sutradara dan aktor kelas dunia.
Namun, di balik pengakuan internasional yang gemilang, pasar domestik mengalami pendarahan.
Kenaikan harga tiket sebesar 25 persen menjadi 15.000 won untuk tiket standar memicu penurunan drastis jumlah penonton.
Jaringan multiplex besar seperti CGV, Lotte Cinema, dan Megabox menutup puluhan cabang di seluruh negeri. Puncaknya, Megabox, jaringan bioskop terbesar ketiga, masuk dalam pengawasan pengadilan bulan lalu.
>>> Daftar Nominasi Primetime Emmy Awards 2026: The Pitt dan Hacks Dominasi
Harapan di Pundak Na Hong-jin
Menurut Korean Box Office Information System, film Korea menghasilkan lebih dari 370 miliar won dengan 37 juta tiket terjual pada paruh pertama 2026.
