Di tengah arus modernisasi, Masyarakat Adat Kasepuhan Cisitu di Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, tetap memegang teguh tradisi Seren Taun.
Tradisi tahunan ini bukan sekadar ritual budaya, melainkan sistem sosial yang menjaga ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, dan identitas masyarakat adat.
>>> BPOM: Penjualan Kosmetik di TikTok Tertinggi, Pelanggaran Meningkat
Seren Taun merupakan puncak ungkapan syukur atas hasil panen selama setahun. Tradisi ini telah bertahan lebih dari tiga abad, sejak pertama kali dilaksanakan pada 1685.
Ribuan masyarakat adat dari berbagai kampung, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, memadati kawasan Kasepuhan Cisitu.
Sebanyak 50 boboko atau bakul besar berisi padi hasil panen diarak menuju leuit, lumbung padi adat yang menjadi simbol kemandirian pangan.
Puluhan ikat padi juga dipikul menggunakan rengkong, alat angkut tradisional berbahan bambu yang menghasilkan bunyi khas saat digerakkan.
>>> DJP: Setiap Pertumbuhan Ekonomi 1% Dorong Penerimaan Pajak Naik 2,25%
Kirab budaya berlangsung khidmat, diiringi doa-doa, kesenian tradisional, serta prosesi penyimpanan padi ke dalam leuit.
Bagi masyarakat Kasepuhan, padi bukan sekadar hasil pertanian, melainkan sumber kehidupan yang harus dijaga sebagai cadangan pangan dan benih untuk musim tanam berikutnya.
Ketua Adat Kasepuhan Cisitu, Abah Yoyo Yohenda, mengungkapkan bahwa Seren Taun tahun ini berlangsung selama delapan hari, mulai 6 hingga 13 Juli 2026.
>>> Imigrasi Cegah Mantan Jampidsus Febrie Bepergian ke Luar Negeri 20 Hari
Hari ketujuh diisi dengan kirab budaya dan ritual sakral Sawer Buhun yang menjadi bagian penting dari rangkaian adat.

