Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran pada Senin (20/7) dini hari, setelah mengumumkan tewasnya satu personel militer AS di Irak.
Serangan itu menargetkan kota Tabriz di barat laut Iran, yang diduga menjadi lokasi pangkalan rudal bawah tanah milik Garda Revolusi Iran.
>>> Awali Pekan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.942/US$
Iran merespons dengan meluncurkan serangan ke Bahrain, tempat markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, dan Kuwait.
Serangan Kesembilan Beruntun
Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa serangan ini merupakan malam kesembilan berturut-turut operasi militer AS terhadap Iran.
Sasaran serangan meliputi pusat komando militer Iran, pertahanan udara, situs pengawasan pesisir, kemampuan maritim, serta lokasi peluncuran rudal dan drone.
Kantor berita IRNA melaporkan setidaknya satu orang tewas di Tabriz akibat serangan tersebut.
Serangan juga dilaporkan menghantam Bandar Imam Khomeini di Provinsi Khuzestan, Sirik dan Jask di Hormozgan, serta Konarak dan Chahbahar di Sistan-Baluchistan.
Korban dan Eskalasi
Personel AS tewas dalam sebuah operasi detonasi terkendali terhadap drone Iran yang jatuh di Irak pada Sabtu (18/7).
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan terbaru dilakukan untuk menghormati prajurit yang gugur.
Sejak perang dimulai pada 28 Februari, total 17 personel militer AS telah tewas.
>>> Bos PalmCo: Program Biodiesel B50 Butuh 4 Juta Ton Tambahan CPO
Otoritas Iran mengumumkan sedikitnya 50 orang tewas dan 517 luka-luka dalam gelombang serangan AS terbaru.
Dampak pada Pelayaran dan Energi
Sebuah kapal terbakar di Selat Hormuz setelah terkena proyektil di dekat perairan Oman, dan awaknya telah meninggalkan kapal.
Garda Revolusi mengklaim telah menargetkan kapal tanker di selat tersebut.
Harga minyak Brent naik di atas 90 dolar AS per barel, memperburuk krisis energi global akibat konflik.
AS telah memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran dan mengklaim telah mengalihkan enam kapal serta melumpuhkan satu kapal sejak pekan lalu.
Diplomasi Masih Terbuka?
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa AS masih terbuka untuk bernegosiasi dengan Iran, namun harus ada itikad baik.
Mantan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menulis bahwa hanya diplomasi dan perjanjian damai baru yang dapat mengakhiri konflik.
>>> Daftar Harga iPhone Juli 2026 di Indonesia: Seri Baru dan Bekas
Zarif memperingatkan bahwa jika Iran terus mengancam lalu lintas maritim, hal itu dapat memicu kecaman global.
