Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (2/8/2026) mengungkapkan bahwa ia memutuskan untuk menunda perintah serangan baru terhadap Iran.
Keputusan ini diambil setelah mendapat desakan dari sekutu Teluk, yaitu Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Trump sebelumnya menyatakan rencana serangan terbesar sejak Perang Dunia II akan dilakukan pada Minggu.
Namun, rencana itu batal demi memberi peluang diplomasi, setelah mendengar masukan dari para pemimpin Teluk, termasuk Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, serta permintaan dari pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya.
"Saya bertanya kepada putra mahkota, 'Apa yang lebih Anda inginkan? Apakah Anda lebih suka kami melakukan ini atau tidak?'"
kata Trump kepada wartawan di Air Force One.
"Mereka berkata kami lebih memilih kesepakatan daripada serangan, karena Anda tidak tahu ke mana serangan itu akan berujung."
Trump dan putra mahkota berbicara pada Sabtu (1/8/2026) sebelum presiden AS mengumumkan di media sosial bahwa sekutu Timur Tengah telah mencapai "parameter" kesepakatan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lima bulan.
Ini merupakan perubahan sikap Trump yang sehari sebelumnya mengaku "kehilangan kepercayaan" pada negosiasi dengan Iran dan memberi peringatan bahwa militer AS "akan menghantam mereka dengan sangat keras."
Isi Kesepakatan yang Sedang Dibahas
Trump pada Minggu menegaskan bahwa kesepakatan yang muncul akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air penting yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima minyak dan gas bumi yang diperdagangkan.
Kesepakatan itu juga akan menyelesaikan kekhawatiran AS tentang program nuklir Iran.
Iran telah berulang kali menyerang kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz tanpa izinnya sebagai bagian dari konflik dengan AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pada Minggu mengatakan bahwa Selat Hormuz "tidak akan kembali ke status sebelum 28 Februari," hari dimulainya perang.
Dalam wawancara dengan TV pemerintah Iran, Baghaei menambahkan bahwa Iran sedang membahas pengiriman melalui selat tersebut dengan Oman, tetapi belum ada pembicaraan tentang pembukaan kembali jalur air penting itu.
Usulan Terbaru Bawa Kedua Belah Pihak ke Negosiasi
Trump pada Minggu mengatakan dia memperkirakan negosiasi akan dilanjutkan "besok sore," tetapi tidak merinci siapa yang akan terlibat.
Seorang pejabat regional yang terlibat dalam mediasi mengatakan proposal yang diumumkan Trump menyerukan AS dan Iran kembali ke meja perundingan untuk membahas berbagai masalah yang selama ini menghambat kemajuan.
Pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan proposal itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penghentian serangan di kawasan, termasuk oleh milisi pro-Iran di Irak, negara-negara Teluk Arab, dan Yordania.
Sebagai imbalannya, AS akan mengakhiri blokade laut dan mengizinkan Iran mengekspor minyaknya, sesuai kesepakatan gencatan senjata sementara.
Belum ada kesepakatan final, tetapi upaya mediasi sedang berlangsung.
Trump juga mengatakan Israel bergabung dalam komitmennya untuk mengakhiri perang dengan menerapkan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Juni.
Israel belum memberikan komentar publik.
Kekhawatiran Arab Saudi tentang Balasan Iran
Putra Mahkota Mohammed, penguasa de facto kerajaan, menyampaikan kekhawatiran tentang potensi eskalasi konflik saat berbicara dengan Trump melalui telepon pada Sabtu.
Panggilan itu bersifat "terus terang dan konstruktif," menurut seseorang yang mengetahui isi panggilan tersebut.
Putra mahkota menyampaikan bahwa eskalasi pertempuran dapat berdampak parah pada ekonomi global jika Teheran merespons serangan baru AS dengan menargetkan sekutu-sekutu AS di Teluk.
Panggilan itu terjadi sebelum pengumuman Trump di media sosial.
Pejabat Saudi juga menekankan bahwa kerajaan, serta UEA dan Qatar, mampu bertahan dari potensi serangan Iran, tetapi Kuwait mungkin lebih rentan terhadap serangan milisi pro-Iran di Irak.
Trump mengisyaratkan bahwa percakapannya dengan putra mahkota Saudi sangat memengaruhi keputusannya untuk membatalkan serangan.
"Itu akan menjadi bencana bagi mereka. Dan mereka tidak ingin kami melakukannya," kata Trump.
"Dan terus terang, Arab Saudi juga tidak menginginkannya. Mereka pikir kesepakatan sudah dekat."
