Sinyal yang saling bertentangan dari Amerika Serikat dan Iran mengenai status perundingan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lima bulan meningkatkan ketidakpastian pada Selasa (4/8/2026).
Serangan terbaru terhadap kapal di Selat Hormuz menyoroti risiko terhadap arus energi global.
>>> Polisi Tangkap Tersangka Pembakaran dalam Kebakaran Hutan Spokane
Presiden AS Donald Trump pada Senin (3/8/2026) mengatakan perundingan sedang berlangsung dan memperingatkan adanya 'kesempatan terakhir' bagi Teheran untuk menandatangani kesepakatan yang baik.
Namun, Iran membantah bahwa negosiasi sedang dilakukan atau direncanakan.
'Mereka sedang berlangsung sekarang,' kata Trump kepada wartawan di acara Oval Office ketika ditanya tentang status negosiasi.
Ia mengatakan kedua pihak berbicara atas permintaan Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar, antara lain.
'Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka (Iran) untuk menandatangani dokumen yang baik,' tambahnya.
Pernyataan tersebut mengikuti keputusan Trump pada akhir pekan untuk membatalkan 'serangan besar-besaran' yang ia klaim telah ia otorisasi terhadap Iran, dengan alasan perundingan akan diadakan.
Pola ini berulang, di mana ia mengancam akan melancarkan serangan besar hanya untuk kemudian membatalkannya.
Bantahan Iran dan Aktivitas Pelayaran
Lebih awal pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat yang sedang berlangsung dan tidak ada pertemuan yang dijadwalkan.
Iran tidak memiliki rencana untuk menjadi tuan rumah delegasi asing atau mengirim negosiator ke luar negeri dalam beberapa hari mendatang.
Baghaei menambahkan bahwa semua negosiator Iran berada di dalam negeri, kecuali Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi yang sedang melakukan ziarah keagamaan di Irak.
Satu-satunya pembicaraan yang sedang berlangsung, katanya, adalah diskusi dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

