Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami deflasi 0,14% secara bulanan pada Juli 2026.
Sementara itu, inflasi tahunan melandai menjadi 2,88% dari 3,34% pada bulan sebelumnya.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai angka tersebut mencerminkan kombinasi antara perbaikan pasokan pangan dan permintaan masyarakat yang masih rapuh.
"Deflasi ini bukan sepenuhnya tanda buruk, tetapi juga belum dapat dibaca sebagai bukti bahwa daya beli kuat dan harga telah terkendali secara permanen," ujarnya saat dihubungi pada Selasa (4/8/2026).
Deflasi Terkonsentrasi pada Bahan Pangan
Josua menjelaskan, deflasi Juli sangat terkonsentrasi pada kelompok bahan pangan yang harganya mudah berubah.
Kelompok harga bergejolak mencatat deflasi 1,68% secara bulanan dan menyumbang penurunan indeks harga sebesar 0,28%.
Di sisi lain, inflasi inti masih naik 0,14% dan harga yang diatur pemerintah meningkat 0,25%.
Artinya, tanpa penurunan harga pangan, Indonesia sebenarnya masih mengalami kenaikan harga bulanan.