Nilai tukar rupiah di pasar spot diperkirakan kembali melemah pada perdagangan Jumat (7/8/2026), setelah dua hari beruntun ditutup menguat.
Sinyal pelemahan juga terlihat dari pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) yang turun 0,12% ke Rp17.980/US$.
Pemicunya adalah tensi geopolitik yang kembali memanas karena belum ada kejelasan mengenai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Kondisi ini membuat harga minyak Brent naik 3,83% ke US$82,49/barel pada perdagangan kemarin, dan pagi ini terkerek lagi 1,04% ke US$83,35/barel.
Mata uang Asia pun merespons negatif. Di pasar yang sudah buka, semua mata uang bergerak di zona merah.
Ringgit Malaysia terdepresiasi 0,12%, won Korea Selatan 0,1%, yen Jepang 0,06%, dan dolar Singapura 0,02%.
Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada data cadangan devisa yang hari ini akan dirilis Bank Indonesia (BI).
Jika posisi cadangan devisa kembali menyusut, pasar menilai bahwa BI melakukan intervensi yang cukup masif demi menjaga rupiah, dan berpotensi merespons negatif aset-aset berdenominasi rupiah.