Seorang sumber senior Iran mengungkapkan bahwa tidak ada kemajuan dalam pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan gencatan senjata interim dengan Amerika Serikat.
Kesepakatan yang ditandatangani pada Juni itu bertujuan mengakhiri perang di Teluk secara permanen.
>>> Panen Perdana Tercepat dalam Sejarah Champagne Prancis Setelah Gelombang Panas
Sumber tersebut menyatakan bahwa salah satu isu yang dibahas melalui mediator adalah kembalinya AS ke kesepakatan interim dan penetapan kerangka waktu untuk implementasi komitmen.
Namun, hingga kini belum ada kemajuan sama sekali.
Kesepakatan yang Gagal
Kesepakatan Juni menetapkan penghentian operasi militer di semua lini, tetapi langsung gagal.
Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan itu 'berakhir' pada 7 Juli, dan kementerian luar negeri Iran menyebutnya 'ditangguhkan' seminggu kemudian.
AS menuduh Iran tidak menghormati komitmen untuk membuka kembali Selat Hormuz, sementara Iran menuduh Washington mengingkari janji mencabut blokade pelabuhan dan membebaskan aset beku.
>>> Kejagung Periksa 6 Orang Terkait TPPU Eks Jampidsus Febrie
Serangan Baru di Jalur Pelayaran
Kekhawatiran atas pasokan minyak meningkat setelah serangan terhadap kapal kargo di Laut Merah dan insiden di Teluk Oman.
Empat awak kapal tewas dalam serangan Houthi yang didukung Iran di Selat Bab el-Mandeb, serangan mematikan pertama sejak perang dimulai.
Sementara itu, militer AS menembakkan rudal Hellfire untuk melumpuhkan kemudi kapal berbendera Panama yang melanggar blokade. Kapal itu dihantam di lepas pantai Pakistan saat menuju Teluk Oman.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak ke puncak $126 per barel, sekitar 75 persen di atas level sebelum perang, sebelum berbalik turun.
>>> Saepullah Tahu Positif HIV Usai Donor Darah, Begini Kronologinya
Pada Rabu, Brent diperdagangkan sekitar $88 per barel dan WTI sekitar $83.
