Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Kuil ini dianggap oleh negara-negara tetangga sebagai simbol militarisme Jepang di masa lalu.
Kunjungan ini dilakukan pada hari peringatan 81 tahun menyerahnya Jepang dalam Perang Dunia II. Koizumi tidak memberikan komentar dan berjalan melewati wartawan di kuil tersebut.
>>> Ludahi Birahi: Pelecehan Agama oleh Ekstremis Yahudi di Yerusalem Kian Rutin
Kuil Yasukuni juga memperingati para penjahat perang Jepang, sehingga kunjungan politisi Jepang ke tempat ini kerap menuai kritik dari China dan Korea Selatan.
Mereka menilai hal ini menunjukkan kurangnya penyesalan atas kekejaman perang Jepang.
Peran Koizumi dan Sikap Pemerintah
Koizumi dikenal sebagai pendukung peningkatan kapabilitas militer dan penjualan senjata di bawah pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang hawkish.
Kunjungannya kali ini dianggap lebih kontroversial karena jabatannya.
Ia adalah putra mantan Perdana Menteri Junichiro Koizumi, yang memicu kemarahan China saat mengunjungi Yasukuni sebagai pemimpin pada 2006.
Perhatian pekan ini tertuju pada apakah Takaichi akan memenuhi janjinya untuk berdoa di kuil pada 15 Agustus.
Namun, media Jepang melaporkan ia akan menghindari kunjungan untuk mencegah memburuknya hubungan dengan Beijing dan menjaga hubungan baik dengan Seoul.
>>> 8.095 Personel Gabungan Dikerahkan untuk Pengamanan di Jakarta, Senayan Jadi Prioritas
Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara sebelumnya mengatakan Takaichi akan membuat keputusan yang tepat.
Fokus selanjutnya adalah bagaimana Takaichi menggambarkan sejarah perang dalam pidato pertamanya sebagai perdana menteri pada upacara nasional.
Takaichi telah berulang kali menolak mengakui agresi dan kekejaman perang Jepang, serta membantah adanya paksaan terhadap pekerja Korea dan wanita yang dijadikan budak seks.
Ia juga pernah terlibat dalam kampanye untuk menghapus referensi tentang 'wanita penghibur' dari buku pelajaran.
Ia mengaku berasal dari generasi pascaperang yang tidak bertanggung jawab atas tindakan masa lalu Jepang dan tidak berniat meminta maaf.
Sejak 2013, perdana menteri Jepang berhenti meminta maaf kepada korban Asia, mengikuti preseden yang dibuat oleh Shinzo Abe.
>>> Profil Keluarga Arya Wedakarna: Istri dan Anak Anggota DPD yang Tuai Sorotan
Tahun lalu, mantan Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyatakan 'penyesalan' atas perang dan menyebutnya sebagai kesalahan, meskipun tidak menyebut agresi Jepang di Asia atau meminta maaf.
