Ekonomi Pancasila kerap menjadi sorotan karena pembangunan yang dinilai belum sepenuhnya berpijak pada nilai-nilai Pancasila.
Padahal, aksiologi sebagai cabang filsafat tentang nilai dan tujuan memiliki peran penting dalam ekonomi Pancasila.
>>> Trump Tunda Tarif 50% untuk Kanada Setelah Kesepakatan Menit Terakhir
Jika ontologi mempertanyakan hakikat ekonomi dan epistemologi membahas cara mengetahuinya, maka aksiologi bertanya untuk apa ekonomi itu ada dan nilai apa yang harus dikejar.
Dalam konteks ini, ekonomi Pancasila bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai kesejahteraan lahir dan batin.
Tanpa nilai, prestasi pertumbuhan ekonomi bisa melahirkan ketimpangan, kemiskinan akut, dan kerusakan moral yang stabil.
Oleh karena itu, tujuan utama ekonomi Pancasila adalah kesejahteraan, kedaulatan, kesentosaan, dan kemartabatan lahir-batin bersama, tanpa pandang bulu.
Lima Nilai Inti Aksiologi Ekonomi Pancasila
Dalam studi yang mendalam, ditemukan lima nilai inti dalam aksiologi ekonomi Pancasila.
>>> Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Kapan, Lawan, dan Skuad
Pertama, kebersamaan, yang dibangun atas semangat gotong royong, bukan saling mematikan kemitraan antara BUMN, swasta, dan koperasi.
Kedua, keadilan sosial, yang memastikan hasil pembangunan dinikmati semua warga, bukan hanya segelintir orang. Keadilan ini harus mentradisi dan menjadi ide sekaligus agama semua orang.
Ketiga, kesentosaan, yang membolehkan mencari untung dan efisien, tetapi tidak serakah. Ada limitasi dan hak orang lain yang dipentingkan serta dijaga.
Keempat, berkelanjutan, yang menggunakan sumber daya alam dengan sepatutnya untuk generasi sekarang tanpa merampas hak anak cucu. Industri dan inovasi menjadi kunci.
>>> Politisi PAN Sari Widyastuti Diduga Gusur Lapak UMKM di Tebet untuk Dapur MBG
Kelima, kemandirian, yang berarti bangsa berdikari, tidak tergantung dan tidak dieksploitasi bangsa lain. Kedaulatan ekonomi menjadi ultima.
