Sidang terhadap Meta Platforms dimulai Selasa (18/8) di pengadilan federal Oakland, California.
Para advokat dan orang tua korban media sosial berkumpul di luar gedung pengadilan dengan membawa spanduk panjang.
>>> 3.567 Sarjana di Kabupaten Tangerang Masih Menganggur, BPS Catat Penurunan TPT
Spanduk itu bertuliskan nama-nama anak dan remaja yang meninggal akibat bahaya media sosial, termasuk bunuh diri setelah perundungan siber atau sextortion.
Nama-nama seperti Giovanni (11 tahun), Bubba (13 tahun), dan Englyn (14 tahun) termasuk di antara hampir 600 nama.
Para orang tua menyebut nama-nama itu hanyalah 'puncak gunung es'. Lennon Torres, advokat dari Heat Initiative, mengatakan, 'Di belakang kami, keadilan akan ditegakkan.
Pintu ruang sidang terbuka, dan sudah saatnya publik melihat apa yang selama ini diketahui para eksekutif Meta: produk mereka dirancang untuk membuat kecanduan dan membahayakan anak-anak.'
Sidang yang Dianggap Krusial
Banyak orang tua yang hadir telah mengikuti persidangan sebelumnya, dengar pendapat kongres, dan acara lain terkait keselamatan anak daring.
Namun, mereka menilai sidang ini menandai momen penting.
Dalam kasus ini, jaksa agung dari empat negara bagian menuntut ganti rugi miliaran dolar atas bahaya media sosial terhadap anak.
Mereka melihatnya sebagai puncak dari bertahun-tahun kerja dan tekanan publik pada perusahaan media sosial.
Perusahaan media sosial semakin sering menghadapi tuntutan hukum atas bahaya terhadap pengguna muda. Meta sendiri telah kalah dua kasus penting tahun ini, yang sedang diajukan banding.
Amy Neville, yang putranya Alexander (14) meninggal karena keracunan fentanil setelah ditipu pengedar narkoba di Snapchat, menyebut sidang ini sebagai 'gelombang perubahan persepsi publik terhadap perusahaan-perusahaan ini'.
Neville, seperti banyak orang tua lain yang kehilangan anak, mengabdikan hidupnya untuk edukasi dan penyadaran bahaya media sosial.
