Lee Young-joo, senior vice president Pace Gallery Seoul, memiliki visi jangka panjang untuk seni Korea.
Ia tidak hanya ingin menjual karya, tetapi juga memastikan seniman Korea memiliki tempat abadi dalam sejarah seni global.
>>> Musim Buah Ara: Nikmati Manisnya dengan Resep Sehat dan Tips Konsumsi
Sebelum bergabung dengan Pace, Lee bekerja di Arario Gallery selama delapan tahun sebagai kurator dan direktur penjualan.
Di sana, ia membantu seniman muda potensial untuk masuk ke museum dan biennale.
Pada 2015, Lee bergabung dengan Pace untuk membantu operasi di Hong Kong. Ia menyaksikan ekosistem seni Hong Kong tumbuh dan menyerap pengaruh global, yang membuatnya berpikir tentang Korea.
"Saya terus berpikir bahwa saya ingin melihat hal seperti itu terjadi di Korea juga," katanya.
Kolektor Korea sudah bepergian ke Hong Kong untuk membeli seni, menunjukkan bahwa pasar Korea tidak kekurangan minat.
Lee mulai meyakinkan Pace untuk membuka ruang di Seoul. Setelah dua tahun meyakinkan, galeri setuju untuk menguji pasar pada 2017.
Outpost pertama di Seoul sederhana, tetapi Lee tidak menganggapnya sebagai showroom biasa.
"Sebuah galeri tidak berakhir hanya dengan membuka pintunya," ujarnya. Ia ingin memikirkan dampak kehadiran Pace bagi audiens Korea dan dunia seni yang lebih luas.
Fokus pada Seniman Korea yang Terlupakan
Lee tidak ingin sekadar memanfaatkan momentum internasional dansaekhwa.
Perhatiannya justru tertuju pada Lee Kun-yong, tokoh penting seni avant-garde dan konseptual Korea abad ke-20 yang kurang dikenal di luar negeri.
Pada 2018, ia membawa karya Lee Kun-yong ke Pace Beijing dengan presentasi besar yang mencakup berbagai periode kariernya.
Ia juga memesan esai baru dari sejarawan seni Joan Kee.