unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Meneladani Rasulullah, Mengisi Kemerdekaan: Refleksi Khutbah Jumat 4 September 2026
News

Meneladani Rasulullah, Mengisi Kemerdekaan: Refleksi Khutbah Jumat 4 September 2026

Meneladani Rasulullah, Mengisi Kemerdekaan: Refleksi Khutbah Jumat 4 September 2026
masjid • pixabay
A A Ukuran Teks16px

Bulan Agustus segera berlalu, membawa serta euforia peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Namun, semangat kemerdekaan tersebut tidak akan padam, melainkan berpadu dengan momentum spiritual yang tak kalah agung: Bulan Rabiul Awal atau bulan Maulid Nabi Muhammad ﷺ.

Pertemuan antara momentum kemerdekaan bangsa dan bulan kelahiran Rasulullah ﷺ yang jatuh pada awal September 2026 ini menawarkan sebuah refleksi mendalam bagi umat Islam di Indonesia. Bagaimana cara kita mencintai Nabi sekaligus mencintai bangsa dan negara?

Menjawab kerinduan umat akan panduan spiritual dan nasionalisme yang berimbang, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sragen, KH Sriyanto, telah menyusun naskah Khutbah Jumat untuk tanggal 4 September 2026 dengan tema “Bulan Maulid dan Momentum Kemerdekaan”.

Naskah khutbah yang dirilis oleh NU Online Jateng ini tidak hanya sekadar menjadi panduan bagi para khatib, tetapi juga sebuah renungan jurnalistik-religius yang sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Mari kita bedah makna mendalam di balik naskah khutbah tersebut.

Lebih Sekadar Lantunan Shalawat

Dalam pengantarnya, KH Sriyanto mengingatkan sebuah realitas yang sering kali terlupakan oleh umat Islam. Bulan Maulid kerap kali hanya dimaknai sebagai bulan di mana jalanan ramai dengan umbul-umbul, dan lisan basah dengan lantunan shalawat. Padahal, esensi dari Maulid jauh melampaui rutinitas tahunan tersebut.

“Kecintaan kepada Nabi tidak cukup hanya diwujudkan melalui lantunan shalawat dan pujian, tetapi juga harus tercermin dalam kejujuran, kasih sayang, kesabaran, amanah, serta kepedulian kepada sesama,” tulis KH Sriyanto.

Merujuk pada QS. Al-Ahzab ayat 21, “Laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah”, beliau menantang jamaah untuk berkaca. Sudahkah akhlak Rasulullah ﷺ yang jujur (shiddiq), terpercaya (amanah), penyayang (rahmah), dan adil menjadi cerminan dalam transaksi bisnis kita, dalam bermedia sosial, dan dalam bermasyarakat? Maulid adalah momentum "kembali ke rel" agar cinta kita kepada Nabi tidak sebatas di bibir, tetapi mewujud dalam aksi nyata.

Harga Sebuah Kemerdekaan dan Peran Ulama-Santri

Di sisi lain, naskah khutbah ini juga membawa kita menyelami sejarah kelam sekaligus heroik bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang kita hirup udaranya hari ini bukanlah hadiah cuma-cuma dari penjajah. Ia ditebus dengan darah, air mata, dan doa-doa malam yang tak terputus dari para ulama, santri, kyai, dan pahlawan tak dikenal.

Dalam kacamata Nahdlatul Ulama, peran ulama dan santri dalam kemerdekaan Indonesia adalah sebuah keniscayaan sejarah. Mulai dari pembentukan Komite Nasional Indonesia, hingga Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 yang melahirkan Hari Pahlawan, para santri adalah garda terdepan pertahanan bangsa.

Oleh karena itu, KH Sriyanto menekankan bahwa mengisi kemerdekaan bukan sekadar mengikuti upacara atau lomba Agustusan. Kemerdekaan sejati adalah kebebasan untuk melakukan kebaikan, kebebasan menuntut ilmu, dan kebebasan beribadah dengan tenteram.

Namun, ada peringatan keras yang disampaikan beliau merujuk pada QS. Al-Qashash ayat 77. Jangan sampai kemerdekaan yang mahal ini justru diisi dengan "kerusakan di muka bumi" berupa korupsi yang merampas hak rakyat, ujaran kebencian yang memecah belah, fitnah di media sosial, serta kemaksiatan yang mengundang murka Allah.

Titik Temu Dua Momentum Agung

Apa yang terjadi ketika Bulan Maulid berpelukan dengan Momentum Kemerdekaan? KH Sriyanto merumuskan sebuah sintesis yang indah: Rasulullah ﷺ mengajarkan persaudaraan dan persatuan, sedangkan kemerdekaan mengingatkan kita pada rasa syukur dan tanggung jawab.

Seorang Muslim yang sejati, menurut khutbah ini, haruslah menjadi warga bangsa yang bermanfaat.

  • Jika ada perselisihan, ia hadir sebagai pendamai.
  • Jika ada kesusahan, ia hadir sebagai penolong.
  • Jika ada kebodohan, ia hadir sebagai pendidik.
  • Jika ada kemiskinan, ia hadir dengan kepedulian sosial.

Bangsa yang besar, ditegaskan dalam khutbah ini, tidak hanya diukur dari tingginya gedung pencakar langit atau canggihnya teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dimiliknya. Bangsa yang besar diukur dari akhlak masyarakatnya, tingkat kejujurannya, dan seberapa kuat mereka saling peduli satu sama lain.

Lima Catatan Penting untuk Umat dan Bangsa

Sebagai penutup dan panduan praktis bagi jamaah, KH Sriyanto merumuskan lima langkah konkret yang harus dilakukan umat Islam di bulan yang penuh berkah ini:

  1. Meningkatkan Iman dan Takwa: Sebagai fondasi utama dalam setiap langkah kehidupan.
  2. Meneladani Akhlak Rasulullah ﷺ: Membawa nilai-nilai kenabian ke dalam ruang publik, keluarga, dan negara.
  3. Menghormati Jasa Pahlawan: Bukan dengan air mata semata, melainkan dengan karya, prestasi, dan amal yang bermanfaat bagi masyarakat.
  4. Merawat Persatuan: Menjaga kerukunan di tengah keberagaman Indonesia yang merupakan sunnatullah.
  5. Mendidik Generasi Penerus: Mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, cinta agama, dan cinta tanah air (hubbul wathan minal iman).

Naskah khutbah ini ditutup dengan doa yang mengharukan, memohonkan ampunan untuk para pahlawan, ulama, dan santri yang telah mendahului kita, serta doa agar bangsa Indonesia senantiasa diberikan keamanan, ketenteraman, dan keberkahan.

Berikut adalah teks lengkap Khutbah Jumat karya KH Sriyanto yang dapat dijadikan panduan bagi para khatib di seluruh Indonesia pada hari Jumat, 4 September 2026.


Teks Lengkap Khutbah Jumat: Bulan Maulid dan Momentum Kemerdekaan

Oleh: KH Sriyanto (Ketua PCNU Kabupaten Sragen)

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَعَزَّ الْمُؤْمِنِيْنَ، وَأَذَلَّ الْكَافِرِيْنَ، وَنَصَرَ عِبَادَهُ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَجَعَلَ فِي طَاعَتِهِ سَعَادَةَ الْمُتَّقِيْنَ، وَفِي عِصْيَانِهِ هَلَاكَ الظَّالِمِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِلٰهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِهِ الطَّاهِرِينَ، وَأَصْحَابِهِ الرَّاشِدِينَ، وَمَنْ سَارَ عَلَىٰ دَرْبِهِمْ وَاتَّبَعَ نَهْجَهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَدْ قَالَ: لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, serta kesempatan, sehingga kita dapat melaksanakan salat Jumat pada hari ini dengan tenteram dan lancar.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad ﷺ, kepada keluarga, para sahabat, para tabi’in, para ulama, serta kita semua sebagai umat beliau yang senantiasa mengharapkan syafaatnya di hari akhir.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jamaah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa adalah melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan ikhlas dan istiqamah.

Allah SWT telah berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. Al-Ahzab: 70)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Pada saat ini, kita telah memasuki bulan Rabiul Awal, bulan yang disebut oleh umat Islam sebagai bulan Maulid, bulan yang penuh dengan momentum untuk mengenang kelahiran Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.

Maulid Nabi bukan hanya menjadi waktu untuk mengingat sejarah kelahiran Rasulullah ﷺ. Namun, yang lebih penting, Maulid menjadi momentum bagi kita untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT telah berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka, jika kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, pertanyaannya: sudah berapa banyak akhlak Rasulullah yang kita teladani? Rasulullah ﷺ adalah pribadi yang jujur, amanah, penuh kasih sayang, sabar, adil, dan senantiasa mengupayakan kebaikan bagi sesama.

Maka, Maulid harus menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak kita. Jangan hanya ramai ketika membaca shalawat, tetapi setelah itu kita harus menjadi lebih jujur. Jangan hanya senang menyebut nama Nabi, tetapi kita harus lebih menyayangi orang lain. Jangan hanya menghormati Rasulullah dengan lisan, tetapi kita harus menghormati ajarannya melalui perbuatan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada bulan ini kita juga sedang merasakan momentum kemerdekaan bangsa Indonesia. Kemerdekaan yang kita rasakan sekarang tidak datang secara tiba-tiba. Ada perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, dan doa dari para leluhur serta para pahlawan. Para ulama dan santri juga memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa. Maka, sebagai generasi penerus, kita harus mampu mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai hal yang bermanfaat.

Kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti bebas untuk melakukan kebaikan, bebas menuntut ilmu, bebas membangun masyarakat, dan bebas beribadah kepada Allah dengan tenteram. Namun, kita harus ingat bahwa kemerdekaan juga merupakan amanah dan tanggung jawab.

Allah SWT telah memberikan peringatan: وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ Artinya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” (QS. Al-Qashash: 77)

Maka, jangan sampai kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan justru diisi dengan kemaksiatan, perselisihan, korupsi, fitnah, ujaran kebencian, dan tindakan yang merusak persatuan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jika kita menyatukan makna Maulid Nabi dan kemerdekaan, kita dapat menemukan pelajaran yang sangat besar. Rasulullah ﷺ mengajarkan kita tentang akhlak dan persatuan. Kemerdekaan mengajarkan kita tentang rasa syukur dan tanggung jawab. Rasulullah ﷺ memberikan teladan agar umatnya menjadi umat yang bermanfaat. Maka, di zaman kemerdekaan ini, kita harus menjadi warga bangsa yang bermanfaat.

Orang Islam harus mampu menjadi orang yang menjadikan lingkungan tenteram. Jika terjadi perselisihan, kita menjadi orang yang mendamaikan. Jika ada kesusahan, kita menjadi orang yang membantu. Jika ada kebodohan, kita menjadi orang yang menyebarkan ilmu. Jika ada kemiskinan, kita membangun kepedulian. Dan jika terjadi perpecahan, kita harus menjadi orang yang menjaga persatuan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Bangsa yang besar tidak hanya diukur dari gedung-gedung yang tinggi, jalan yang bagus, atau teknologi yang maju. Namun, juga diukur dari akhlak masyarakatnya, kerukunannya, kejujurannya, dan kepeduliannya terhadap sesama.

Maka, di bulan Maulid dan momentum kemerdekaan ini, marilah kita bersama-sama memperbaiki diri. Pertama, kita tingkatkan iman dan takwa. Kedua, kita teladani akhlak Rasulullah ﷺ. Ketiga, kita menghormati jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui amal yang bermanfaat. Keempat, kita menjaga persatuan dan kerukunan. Kelima, kita mendidik putra-putri kita agar menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, mencintai agama, dan mencintai bangsa.

Semoga Indonesia senantiasa diberikan keamanan, ketenteraman, kemakmuran, dan keberkahan. Semoga para pahlawan bangsa, para ulama, dan para pejuang yang telah wafat diberikan tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Aamiin.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ .أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

(Duduk sejenak antara dua khutbah)

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ. وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللّٰهِ،إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru