Warganya Sangat Ramai! Inilah Kota yang Dapat Julukan Jepangnya Indonesia yang ada di Jawa Tengah, Bisa Ikeh-Ikeh Kimochi?
Dimana Kota yang Dapat Julukan Jepangnya Indonesia? Benarkah ada di Jawa Tengah? Kini Jadi Saingan Lumajang dan Bandung
Kota "Jepangnya Indonesia" Tersembunyi di Jawa Tengah
Siapa sangka, di Provinsi Jawa Tengah ada sebuah kota yang disebut sebagai "Jepangnya Indonesia".
Gelar ini bukanlah isapan jempol semata, bahkan sudah melekat sejak zaman penjajahan Belanda.
Biasanya, julukan seperti ini diberikan karena ada kesamaan alam antara suatu tempat dengan negara lain.
Seperti contohnya Kabupaten Lumajang di Jawa Timur yang dijuluki 'Oostenrijk van Java' atau Austria dari Jawa, karena memiliki kekayaan alam serupa dengan negara Austria.
Begitu pula dengan Kota Batu di Jawa Timur yang disebut sebagai De Kleine Switzerland atau Swiss Kecil karena berada di dataran tinggi dengan pemandangan yang memukau.
Namun, "Jepangnya Indonesia" di Jawa Tengah ini punya cerita yang berbeda.
Gelar ini tidak hanya terkait dengan keindahan alam, melainkan juga dengan perkembangan industri yang mirip dengan yang ada di Jepang.
Kota yang dimaksud adalah Tegal. Di sini, masyarakatnya dikenal sebagai ahli dalam industri logam, mirip dengan yang terjadi di Jepang.
Mereka mampu memproduksi berbagai peralatan dan suku cadang untuk pabrik gula, tekstil, perkapalan, bahkan kereta api sejak zaman kolonial Belanda.
Dalam perkembangannya, Tegal bahkan mendirikan dua pabrik logam besar.
Salah satunya adalah Pabrik Logam NV Barat, yang kini dikenal sebagai PT Barata, yang masih beroperasi hingga kini.
Yang lainnya adalah Pabrik Logam NV Nrunger atau PT Dwika yang tutup sekitar tahun 1918.
Ketika Jepang menggantikan Belanda pada sekitar tahun 1940, industri logam di Tegal dialihfungsikan untuk keperluan perang Jepang.
Di bawah rezim pendudukan Jepang, sistem kerja paksa diterapkan untuk memenuhi kebutuhan perang. Meskipun sulit, sistem ini menghasilkan efek yang mengejutkan.
Para ahli logam di Tegal menjadi lebih disiplin dan teliti dalam pekerjaan mereka.
Mereka juga mendapatkan pelatihan langsung dari para ahli Jepang.
Dengan pengetahuan dan keterampilan baru ini, banyak pekerja pabrik yang memutuskan untuk keluar dan membuka industri logam skala rumahan.
Bengkel-bengkel sederhana pun bermunculan di beberapa desa seperti Tembok Luwung, Lemah Duwur, Talang, Kajen, Kebasen, dan Adiwerna.
Industri kecil menengah di bidang perlogaman ini menjadi sentra penting dalam memenuhi kebutuhan berbagai sektor.
Tegal mencapai masa kejayaannya sebagai "Jepangnya Indonesia" pada tahun 1982, meskipun kemudian meredup seiring berjalannya waktu.***