Dua raksasa bisnis Korea Selatan, Samsung Electronics dan LG Energy Solution, mencatatkan kinerja yang bertolak belakang pada kuartal terbaru.
Samsung menikmati lonjakan laba berkat permintaan chip memori untuk pusat data kecerdasan buatan (AI). Sementara LG Energy justru tertekan oleh lesunya permintaan kendaraan listrik global.
>>> Harga Emas Antam Hari Ini 7 Juli 2026 Turun Rp15.000, Kini Rp2.655.000 per Gram
Laba Samsung Melonjak 19 Kali Lipat
Samsung Electronics mencatat laba operasional awal sebesar US$58 miliar atau 89,4 triliun won (setara Rp1.043 triliun) pada kuartal kedua tahun ini.
Angka tersebut melonjak 19 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan melampaui ekspektasi analis yang memperkirakan 84,2 triliun won.
Pendapatan Samsung juga meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 171 triliun won, juga di atas perkiraan pasar.
Kinerja gemilang ini didorong oleh permintaan tinggi terhadap chip memori yang digunakan dalam pusat data AI.
>>> Harga Pangan Terus Naik: Gula Pasir Premium Ikut Merangkak
Namun, harga saham Samsung justru tidak bergerak naik signifikan setelah reli AI sebelumnya.
Samsung dijadwalkan merilis laporan keuangan lengkap, termasuk laba bersih dan rincian per divisi, pada akhir Juli 2026.
LG Energy Tertekan Lesunya EV
Di sisi lain, LG Energy Solution, unit bisnis baterai dari LG Group, menghadapi tantangan berat akibat perlambatan permintaan kendaraan listrik (EV).
>>> Rupiah Dibuka Rp18.000/US$, Tapi Langsung Balik Arah
Perusahaan belum merinci angka kerugian, tetapi kondisi industri menunjukkan tekanan yang berkelanjutan pada sektor baterai global.
