unique visitors counter
⌂ Beranda Lifestyle Museum Seoul Ungkap Sejarah Panjang Sindang-dong dari Zaman Joseon hingga Tren Modern

Museum Seoul Ungkap Sejarah Panjang Sindang-dong dari Zaman Joseon hingga Tren Modern

Museum Seoul Ungkap Sejarah Panjang Sindang-dong dari Zaman Joseon hingga Tren Modern
Ilustrasi: Museum Seoul Ungkap Sejarah Panjang Sindang-dong dari Zaman Joseon hingga Tren Modern
A A Ukuran Teks16px

Museum Sejarah Seoul baru saja menerbitkan laporan survei budaya berjudul “Sindang-dong: Shin, Shin, Hip” yang mengupas perjalanan panjang kawasan Sindang-dong di pusat Kota Seoul.

Laporan ini menyusun sejarah kompleks lingkungan tersebut dalam tiga era linguistik dan budaya yang berbeda.

>>> MMCA Gelar Pemutaran Film Eksperimental Karya Jean-Claude Rousseau

Dari Tempat Pemakaman hingga Permukiman Modern

Era pertama dimulai dengan kata “shin” yang berarti “roh” dalam aksara Tionghoa.

Pada masa Dinasti Joseon (1392-1897), daerah ini terletak di luar Gwanghui-mun, sebuah gerbang kota yang secara informal dikenal sebagai “gerbang mayat” karena digunakan untuk membawa jenazah keluar ibu kota untuk dimakamkan.

Di sana juga terdapat Donghwalinseo, klinik kesehatan negara untuk warga miskin.

in2

Karena dilarang tinggal di dalam tembok kota, para dukun ibu kota menetap di kawasan ini, menjadikannya tempat perlindungan untuk menyembuhkan orang hidup dan menenangkan arwah orang mati.

Meskipun aksara Tionghoa untuk nama lingkungan ini resmi diubah menjadi “baru” pada akhir abad ke-19, nama-nama lokal seperti “Lembah Dukun” dan “Jembatan Dukun” tetap mengingatkan pada sejarah tersebut.

Lahirnya Sindang-dong Modern

Lapisan kedua “shin” menelusuri kelahiran Sindang-dong modern sebagai pusat permukiman.

Untuk mengatasi kepadatan parah di pusat kota lama selama masa penjajahan Jepang (1910-1945), perbukitan, hutan lebat, dan pemakaman komunal dibersihkan dan diganti dengan jalan, trem, dan serangkaian “desa budaya” yang terinspirasi gerakan “kota taman” Eropa untuk kelas menengah yang sedang naik.

Setelah kehancuran Perang Korea (1950-1953), kawasan ini mengalami gelombang besar pengungsi dan orang-orang yang kembali dari luar negeri.

Proyek zonasi ulang lahan yang besar kemudian mengkodifikasikan jaringan jalan yang ketat dan padat yang masih menjadi kerangka fisik lingkungan saat ini.

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru
stikibot