Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh kombinasi fenomena meteorologi di atmosfer.
Kondisi ini diperparah oleh dampak perubahan iklim global.
>>> Setneg: Tak Ada PHK Karyawan Eks Hotel Sultan, Sedang Disalurkan ke Pekerjaan Baru
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan faktor utama pemicu fenomena tersebut adalah terbentuknya Blok Omega (Omega Block).
Pola sirkulasi atmosfer ini menyerupai huruf Yunani Omega.
"Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa beberapa minggu belakangan ini dipicu oleh kombinasi fenomena meteorologi spesifik di atmosfer dan diperparah secara signifikan oleh perubahan iklim global," ujar Ardhasena kepada Bloomberg Technoz, Selasa (7/7).
Mekanisme Blok Omega dan Heat Dome
Menurut Ardhasena, pola Blok Omega membentuk sistem tekanan tinggi (antisiklon) yang sangat kuat dan stabil di wilayah Eropa Barat hingga Eropa Tengah.
>>> Prabowo Subianto Bertemu Eks PM Inggris Tony Blair di Jakarta
Sistem ini diapit oleh dua sistem tekanan rendah di sisi barat dan timurnya.
Kondisi tersebut menciptakan fenomena heat dome atau kubah panas yang memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi.
"Tekanan tinggi tersebut terus menekan udara panas ke bawah, memerangkapnya di permukaan bumi, dan mencegah terbentuknya awan maupun angin sejuk yang bisa menurunkan suhu.
Proses ini dikenal sebagai pemanasan adiabatik," jelasnya.
>>> Polisi Tangkap Penjual Obat Keras Berkedok Warung di Depok
Akibatnya, suhu di sejumlah wilayah Eropa menembus lebih dari 40 derajat Celsius. BMKG terus memantau perkembangan fenomena ini dan mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap dampak perubahan iklim global.
