Kenaikan biaya kuliah kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.
Tantangan pendidikan kini tidak hanya soal membayar uang kuliah di awal, tetapi juga menjaga keberlangsungan finansial hingga lulus.
>>> Sempat Buang Barang Bukti, Pengedar Sabu di Pabuaran Ditangkap
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Penunjang Pendidikan 2024 menunjukkan rata-rata biaya pendidikan di perguruan tinggi mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran.
Pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran 20 persen teratas, angkanya lebih tinggi, yakni Rp24,42 juta per tahun.
Biaya tersebut belum termasuk tempat tinggal, konsumsi, transportasi, dan kebutuhan akademik lain yang terus meningkat seiring inflasi.
Hal ini membuat banyak keluarga bertanya-tanya bagaimana menyiapkan dana pendidikan sekaligus menjaga stabilitas keuangan selama masa studi.
Perencanaan Keuangan yang Komprehensif
Direktur Bisnis Individu merangkap Pelaksana Tugas Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, menilai banyak keluarga baru menyadari besarnya komitmen biaya pendidikan saat anak sudah diterima di perguruan tinggi.
Padahal, perencanaan idealnya dilakukan jauh sebelumnya.
"Ketika berbicara mengenai dana pendidikan, banyak yang masih berfokus pada berapa besar dana yang harus dikumpulkan.
Padahal, tantangan yang sebenarnya adalah memastikan tujuan tersebut tetap dapat dicapai meskipun kondisi keuangan berubah," ujar Fabiola.
Menurutnya, perencanaan keuangan komprehensif tidak hanya mencakup menabung dan investasi, tetapi juga kesiapan menghadapi risiko seperti kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, atau kondisi kesehatan yang memerlukan biaya besar.
>>> PPPK Paruh Waktu di Pandeglang Ngadu ke DPRD, Tuntut Kejelasan Status dan Kesejahteraan
Pendidikan Membutuhkan Aset dan Perlindungan Risiko
Fabiola menjelaskan bahwa setiap tujuan finansial jangka panjang memiliki dua fondasi utama: pembentukan aset dan pengelolaan risiko.
