Presiden Lebanon Joseph Aun dijadwalkan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (22/7) di Washington.
Pertemuan ini menjadi puncak kunjungan empat hari Aun ke AS.
>>> Pakar: Harga Minyak Rusia Belum Tentu Murah Meski Ada Kesepakatan G2G
Kunjungan ini bertujuan mendorong terciptanya stabilitas jangka panjang di Lebanon pasca konflik berkepanjangan antara Israel dan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran.
Pertemuan Aun dengan Trump terjadi di tengah perundingan langsung yang jarang terjadi antara Lebanon dan Israel, yang dimediasi oleh Washington.
Lebanon berharap perundingan ini menghasilkan penarikan pasukan Israel dari wilayah selatan Lebanon yang masih diduduki.
Lebanon juga ingin militer negaranya mendapat dukungan untuk menguasai penuh wilayah yang sebelumnya dikuasai Hizbullah.
Kesepakatan Kerangka Kerja
Pada 26 Juni lalu, Lebanon dan Israel mengumumkan "kesepakatan kerangka kerja" yang mengatur penarikan pasukan Israel dari Lebanon selatan serta pelucutan senjata Hizbullah.
Kesepakatan ini juga mencakup langkah menuju perjanjian damai antara kedua negara yang belum memiliki hubungan diplomatik resmi dan secara nominal dalam keadaan perang selama hampir 80 tahun sejak berdirinya Israel.
Departemen Luar Negeri AS pada Senin (21/7) mengumumkan dimulainya operasi di tiga desa yang dianggap sebagai "zona percontohan".
Ketiga desa tersebut adalah Froun, Srifa, dan Zawtar al-Gharbieh, yang saat ini tidak berada di bawah kendali militer Israel.
Baik militer Lebanon maupun Israel, serta pimpinan politik kedua negara, belum mengeluarkan pernyataan terkait pengumuman tersebut.
Dukungan AS untuk Kesepakatan
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu dengan Aun pada Minggu (20/7) dan menyatakan bahwa Washington akan terus mendukung kesepakatan Lebanon serta implementasi penuhnya.
Rubio menyebut pertemuan itu "sangat positif" dan memperingatkan bahwa Lebanon "tidak akan pernah sepenuhnya damai" selama masalah Hizbullah belum terselesaikan.
