Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump pada Selasa (29/7) di Washington.
Pertemuan ini menjadi yang pertama sejak kedua pemimpin meluncurkan perang bersama melawan Iran pada Februari lalu.
>>> Telkom Gelar Forum Kolaborasi Nasional untuk Perkuat Kesiapan Post-Quantum Cryptography
Netanyahu berharap pertemuan ini dapat memperbaiki hubungan yang mulai renggang. Keduanya kini menghadapi tekanan politik di dalam negeri masing-masing.
Trump mengungkapkan kekesalannya terhadap Netanyahu dalam wawancara dengan Fox & Friends.
Ia mengeluhkan laporan bahwa Netanyahu berencana membahas intelijen tentang aktivitas Iran di Gunung Pickaxe, sebuah situs nuklir potensial yang berulang kali diancam akan dibom oleh Trump.
"Saya tahu persis apa yang terjadi di Pickaxe," kata Trump.
Ia bersikeras bahwa apa pun yang dilakukan Iran "bukan masalah besar" dan bahwa "Bibi memberitahu saya karena dia ingin saya tetap terlibat."
"Kenapa harus diumumkan ke dunia?" tambah Trump, menunjukkan rasa frustrasinya terhadap sekutunya itu.
Perbedaan Pandangan soal Iran
Menurut seorang pejabat Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya, kedua pemimpin juga akan membahas kerangka kerja sama yang ditandatangani AS dan Israel dengan Lebanon terkait perang Israel-Hezbollah serta perluasan Abraham Accords.
Trump mengakui adanya perbedaan pendapat dengan Netanyahu mengenai Iran. "Kami memiliki sedikit perbedaan," kata Trump kepada wartawan pada Senin.
"Tapi cukup dekat, ya."
Hubungan Trump dan Netanyahu memang naik-turun. Setelah Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu, aliansi mereka tampak kuat.
Namun, ketika Iran membalas dengan drone dan rudal yang menghantam pangkalan AS serta gedung-gedung tinggi di Teluk, Trump mendapat tekanan besar untuk mengakhiri konflik.
Netanyahu yang ingin melanjutkan pertempuran di Iran dan melawan sekutunya, Hezbollah di Lebanon, kini mulai disisihkan saat Trump mencari kesepakatan dengan Teheran.
