ExxonMobil Holdings Corp nyaris meleset dari perkiraan laba pada kuartal kedua meski harga minyak mentah melonjak dan margin produksi bahan bakar melebar.
Kondisi ini terjadi saat konflik AS-Iran memasuki bulan keenam.
>>> Warganet Heboh, Sejumlah Mal Besar Pasang Pagar Tinggi Berlapis Kawat Berduri
Laba kuartal kedua yang disesuaikan mencapai US$3,52 per saham, dua sen lebih rendah dari perkiraan rata-rata analis dalam survei Bloomberg.
Penyebab utamanya adalah pemeliharaan kilang yang membuat perusahaan tidak bisa sepenuhnya memanfaatkan harga bensin, solar, dan bahan bakar jet yang tinggi.
Meski demikian, laba keseluruhan sebesar US$14,7 miliar menjadi yang terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 mengguncang pasar global.
>>> Dijanjikan Rp220 Juta, Pilot Malaysia Nekat Selundupkan 25 Kg Ekstasi ke Indonesia
Laba Raksasa Minyak Meningkat
Chevron Corp sebelumnya melaporkan laba yang meningkat tajam, menyusul laporan optimis dari Shell Plc dan TotalEnergies SE dalam beberapa hari terakhir.
Gangguan pasokan minyak mentah terbesar dalam sejarah terbukti menguntungkan perusahaan-perusahaan minyak raksasa.
>>> 60.000 Migran Masuk Ceuta, 34 Tewas dalam Krisis Perbatasan
Pelanggan berlomba mencari pengganti pasokan dari Teluk Persia, yang menjadi pintu gerbang bagi 20% pasokan minyak dunia.

