Diskusi itu terjadi saat Trump mempertimbangkan apakah akan melakukan serangan baru terhadap Iran.
Menurut orang yang mengetahui isi panggilan tersebut, pihak Saudi khawatir jika AS menargetkan infrastruktur energi Iran atau melakukan serangan besar-besaran, Teheran dapat membalas dengan menyerang infrastruktur energi kerajaan dan negara-negara Teluk lainnya.
Putra Mahkota dalam panggilan itu mencari kejelasan dari Trump tentang tindakan baru apa yang sedang dipertimbangkan terhadap Iran.
>>> Trump: AS dan Israel Tunda Serangan ke Iran atas Permintaan Teheran
Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi para pemimpin berbicara pada Sabtu, tetapi tidak memberikan detail percakapan mereka.
Saudi sendiri telah bergabung dengan AS dalam menyerang beberapa lokasi logistik dan senjata yang digunakan milisi pro-Iran di Irak, tetapi terus mendesak AS dan Iran kembali ke meja perundingan.
Putra Mahkota juga mengirim saudaranya, Menteri Pertahanan Saudi Khalid bin Salman, ke Washington pada Rabu untuk bertemu Trump dan Wakil Presiden JD Vance membahas strategi Iran.
Trump juga bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada Selasa, pertemuan tatap muka pertama mereka sejak meluncurkan perang pada Februari.
Pemimpin Israel telah mendesak Trump untuk terus melanjutkan perang melawan Iran.
Perang Tidak Populer dan Pemilu Paruh Waktu
Lanjutan aksi militer AS memiliki risiko tinggi bagi Trump dan partainya, karena konflik yang tidak populer di kalangan banyak warga Amerika telah mengguncang ekonomi dunia menjelang pemilu paruh waktu November.
Presiden sebelumnya berjanji mengambil tindakan balasan setelah militer AS menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pangkalan AS di Yordania pekan ini.
Trump pada Jumat menunjukkan frustrasinya dengan mengatakan kepada wartawan bahwa "kami hanya ingin menang" di Iran dan AS akan menghantam Iran "sangat keras" sampai mereka tidak tahan lagi.
