Serangan itu berkontribusi pada runtuhnya kesepakatan sementara yang dicapai pada bulan Juni, yang menawarkan konsesi signifikan kepada Iran, termasuk keringanan AS untuk menjual minyak secara internasional dan janji keringanan sanksi yang lebih luas.
Iran telah berulang kali mengatakan Selat Hormuz tidak akan kembali menjadi jalur air terbuka, dan akan terus menyerang kapal yang mencoba melintas tanpa izinnya.
Komando militer gabungan Iran menyebutnya 'garis merah yang tidak dapat dipatahkan'.
"Bagi Iran, Selat Hormuz telah menjadi tuas strategis untuk pencegahan, menjaga keseimbangan kekuatan regional, dan membentuk kembali aturan keamanan di Teluk Persia," kata Mostafa Najafi, analis keamanan yang berbasis di Teheran.
Itu menjadi hambatan besar untuk mengakhiri perang, apalagi menyelesaikan sengketa yang lebih kompleks dan sudah berlangsung lama atas program nuklir Iran.
"Masalah atom, karena konflik di Selat Hormuz, telah disisihkan, dan pada kenyataannya, itu untuk kepentingan Iran," kata Rahman Ghahremanpour, analis yang berbasis di Iran.
Kendali atas selat itu akan memberi Iran pengaruh jika pembicaraan nuklir dilanjutkan, tambahnya.
Perjudian Berisiko
Dampak ekonomi dari perang telah menyebar ke seluruh dunia, tetapi sangat akut di Iran. Serangan AS dan Israel telah menghantam basis industrinya.
Blokade AS telah mencekik sebagian besar ekspor minyaknya.
Warga Iran bergulat dengan inflasi pangan tiga digit. Trump telah berulang kali mengancam serangan besar-besaran pada infrastruktur sipil seperti air dan listrik.
Pada bulan Desember, krisis mata uang memicu protes anti-pemerintah terbesar dalam 47 tahun sejarah Republik Islam.
Otoritas merespons dengan tindakan keras berdarah yang menewaskan ribuan orang dan menahan puluhan ribu.
Banyak orang Iran, termasuk mereka yang dekat dengan Presiden moderat Masoud Pezeshkian, khawatir hal itu bisa melangkah terlalu jauh.
