unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan Kritik K-pop sebagai Produk Korporat: Bisakah Dijawab?
Hiburan

Kritik K-pop sebagai Produk Korporat: Bisakah Dijawab?

Kritik K-pop sebagai Produk Korporat: Bisakah Dijawab?
Kritik K-pop sebagai Produk Korporat: Bisakah Dijawab?
A A Ukuran Teks16px

Penampilan Massive Attack di Incheon Pentaport Rock Festival pada 1 Agustus memicu perdebatan. Band asal Inggris itu membawakan lagu 'Regret of the Times' milik Seo Taiji and Boys.

Mereka juga menampilkan cuplikan Peristiwa Gwangju 1980.

>>> Ryan Gosling Resmi Bintangi Ghost Rider, Tayang 28 Juli 2028

Pesan yang disampaikan jelas: K-pop yang dulu menjadi bentuk perlawanan terhadap sensor negara, kini tunduk pada kapitalisme dan komodifikasi massal.

Beberapa pihak menganggap aksi itu sebagai pesan politik. Namun, kritik tersebut justru meleset dari maksud utama yang ingin disampaikan band asal Inggris itu.

Pesan yang dibawakan tidak berkaitan dengan perlawanan terhadap rezim politik. Melainkan tentang masalah yang melekat dalam industri K-pop, yaitu produksi idola yang diatur seperti harga saham.

Kontradiksi dalam Industri K-pop

Kritik semacam ini bukan hal baru. Namun, karena sudah berlangsung lama, ada saatnya harus dihadapi.

Momen itu mungkin semakin dekat.

Setelah kesuksesan global BTS, format industri K-pop mulai diterima dengan lebih toleran.

Namun, kontradiksi antara komersialisasi dan kebebasan kreatif semakin besar seiring agensi yang semakin besar dan daftar kredit produser yang semakin panjang.

Bahkan BTS menunjukkan ketegangan ini dalam dokumenter tentang kembalinya mereka setelah hiatus hampir empat tahun.

Para anggota sempat tidak setuju dengan arahan perusahaan untuk memasukkan tema Arirang dalam lagu mereka.

Dari dokumenter dan panggung comeback, tampaknya BTS akhirnya menerima peran sebagai 'ikon K-pop' yang didorong oleh ketua HYBE, Bang Si-hyuk.

Keputusan itu pasti melalui pertimbangan panjang, tetapi tetap menyisakan pemikiran suram bahwa bahkan BTS tidak bisa lepas dari sistem.

Di level tertinggi K-pop, industri tidak lagi berpura-pura bahwa idola bukan produk. Mereka justru secara eksplisit menekankan bahwa idola adalah produk.

D
Tim Redaksi
Penulis: Dwi Andini
📰 Update Terbaru
stikibot