Perkembangan kecerdasan buatan (AI) di sektor keuangan memasuki babak baru. AI tidak lagi sekadar alat bantu analisis, tetapi mampu mengambil keputusan dan mengeksekusi transaksi secara mandiri.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi), Nezar Patria, mengungkapkan bahwa agentic AI dapat diberi otoritas untuk mengambil keputusan dan melakukan transaksi.
>>> Caviar Rilis iPhone 17 Pro dengan Penghitung Geiger dan Bodi Titanium
Bahkan, AI bisa berkomunikasi dengan AI lain untuk memutuskan transaksi.
Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam acara OJK Digination Day 2026 di Jakarta, Kamis (27/8/2026). Ia menegaskan bahwa risiko dari otonomi AI ini tidak bisa diabaikan.
Risiko Baru di Sektor Keuangan
Ketika AI diberi kewenangan untuk bertindak, kesalahan sistem tidak lagi berhenti pada rekomendasi yang keliru.
Keputusan AI berpotensi langsung memengaruhi transaksi, layanan, data pribadi, hingga akses konsumen terhadap produk keuangan.
Nezar menekankan pentingnya mitigasi dan regulasi yang disiapkan sejak sekarang. “Risikonya tentu besar juga sehingga mitigasi, regulasi, dalam soal ini harus kita siapkan mulai sekarang,” tegasnya.
>>> Samsung Galaxy S26 FE Pakai Exynos 2500 di Semua Pasar
Tantangan yang muncul bukan hanya memastikan teknologi bekerja benar.
Pemerintah dan pelaku industri perlu menentukan batas kewenangan AI, sejauh mana manusia tetap mengawasi, serta mekanisme pertanggungjawaban jika terjadi kerugian.
Persoalan menjadi semakin kompleks ketika satu sistem AI berinteraksi dengan sistem AI lain untuk mengambil atau mengeksekusi keputusan.
Jejak pengambilan keputusan menjadi aspek penting.
>>> Citizen Rilis Dua Jam Tangan Eco-Drive Kompak dengan Desain Elegan
Ketika terjadi masalah, perlu ada kejelasan mengenai bagaimana keputusan dibuat, sistem mana yang terlibat, siapa yang memberi kewenangan, dan pihak mana yang bertanggung jawab.
