Kisahnya mengikuti pasangan suami istri Joong-gu dan Nam-mi yang rumah tangganya goyah setelah seorang anak bernama Dong-joo muncul secara tak terduga.
Delapan tahun kemudian, keduanya mempertaruhkan segalanya untuk mengungkap kebenaran dan menyelamatkan Dong-joo dari insiden mengejutkan. Lee kembali mengeksplorasi solidaritas karakter-karakter yang hancur.
Jika "Miss Baek" fokus pada solidaritas perempuan dan "Climax" mengupas ambisi serta kehancuran manusia, maka "Portrait of A Family" menggambarkan pengorbanan dan kebersamaan sebuah keluarga dalam menghadapi krisis.
Melalui arahan yang intuitif, film ini menunjukkan penebusan bagi mereka yang terpinggirkan saat saling menemukan keselamatan satu sama lain.
Sutradara Yoon Dan-bi, yang sukses dengan "Moving On", juga bersiap menyapa penonton lewat film anyarnya, "The World Before".
Film ini akan ditayangkan di Busan International Film Festival ke-31.
"The World Before" juga diundang ke Toronto International Film Festival dan San Sebastian International Film Festival.
Kisahnya berpusat pada Jin, remaja 17 tahun yang tak pernah meninggalkan pulaunya yang terisolasi, serta Du-jae yang pulang setelah bertahun-tahun untuk menghadiri pemakaman neneknya.
Film ini secara cermat menangkap kisah-kisah universal tentang pendewasaan dan perubahan emosi yang halus.
Munculnya para sutradara perempuan baru ini menjadi perubahan yang disambut baik di industri film.
Mereka mampu membalikkan konvensi genre dan menghadirkan kisah-kisah yang selama ini jarang diangkat ke layar lebar.
Namun, tantangan tetap ada. Undangan festival film luar negeri dan pujian kritikus tidak otomatis berbanding lurus dengan kesuksesan box office.
Para sineas harus mencari cara untuk menyeimbangkan nilai artistik dengan daya tarik massa.
Terlepas dari isu gender, menonjolnya para sutradara perempuan ini menunjukkan keberagaman perspektif yang dapat diadopsi sinema Korea.
Industri kini mengamati apakah momentum ini akan menjadi bagian permanen yang memperluas keragaman sinematik, atau hanya tren sesaat.