Asia Tenggara dinilai pasar optimal untuk konten pendek karena populasi mudanya besar dan akrab dengan teknologi digital.
Tren ini juga mulai masuk ke India, pasar besar lain yang menyimpan sentimen anti-China kuat.
NDTV pada Agustus melaporkan India berada di tahap awal ledakan microdrama gaya China, dengan Generasi Z mendorong permintaan hiburan cepat saji.
Osuwanakul, warga Bangkok berusia 40-an, mengakui daya tarik microdrama China meski menilai alurnya absurd dan aktingnya lemah.
Menurutnya, ada kualitas adiktif yang membuat penonton terus menyimak.
Nguyen Linh, pekerja kantor 34 tahun di Hanoi, bahkan tidak menyadari tayangan itu berasal dari China.
Ia baru tahu setelah orang di sekitarnya memberi tahu, karena konten serupa sangat mudah ditemukan di YouTube dan TikTok.
Pengamat industri menilai klip pendek ini menjadi gerbang menuju hiburan China yang lebih luas.
Rasa penasaran dari klip pendek disebut berlanjut ke drama panjang di platform streaming seperti iQIYI dan WeTV, hingga berujung pada fandom selebritas.
Pengembang juga memonetisasi keterlibatan itu lewat belanja dalam aplikasi, memungkinkan pengguna membeli kosmetik, fesyen, dan produk yang dipakai tokoh di layar.