"Global South bukan entitas yang homogen," kata Praveen Donthi, analis senior International Crisis Group.
"Karena itu, kelompok ini akan sulit mengelola dan memediasi konflik-konflik tersebut."
Perang Rusia di Ukraina telah menunjukkan batas kemampuan India menyeimbangkan kepentingan yang bersaing.
New Delhi mempertahankan hubungan erat dengan Moskow, termasuk melalui pakta energi dan pertahanan, sekaligus memperdalam hubungan strategisnya dengan Washington.
Negara Asia Selatan itu secara konsisten menyerukan dialog dan diplomasi ketimbang memihak.
Konflik Iran-Amerika Serikat menghadirkan tantangan serupa.
Anggota BRICS memiliki hubungan yang berbeda dengan Washington dan kepentingan di Timur Tengah, sehingga respons bersama menjadi sulit.
China dan Rusia mendukung Iran di forum internasional, sementara India mengambil pendekatan hati-hati.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki ketegangan sendiri dengan Teheran.
India dan upaya mengurangi ketergantungan pada dolar
Bagi India, pertemuan puncak ini menjadi kesempatan mengelola hubungannya dengan China.
Hubungan membaik sejak ketegangan perbatasan meningkat pada 2020, tetapi China tetap menjadi rival strategis terbesar India.
Kunjungan Presiden China Xi Jinping ke New Delhi, yang pertama dalam tujuh tahun, dapat membantu memperkuat pencairan hubungan diplomatik terbaru, namun hanya sedikit tanda pemulihan hubungan dagang dan bisnis.
"Pertemuan puncak mendatang menawarkan India kesempatan untuk terlibat dengan China, membuat kemajuan pada isu bilateral yang belum terselesaikan," kata Donthi.
India juga berkepentingan mencegah BRICS menjadi blok yang secara eksplisit anti-Barat.
New Delhi memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat, Israel, Jepang, Australia, dan Eropa sambil mempertahankan hubungan lama dengan Rusia.
"India akan memproyeksikan otonomi strategisnya dengan menjadi bagian dari kelompok non-Barat, tetapi juga merasa berguna untuk terlibat dengan China, rival strategis utamanya," kata Donthi.
